Zyklon-B

March 20, 2015 Leave a comment

Zyklon B

10922605_10203503443895465_2749150728007224810_nZyklon B adalah nama zat kimia yang disebut-sebut digunakan oleh nazi jerman untuk menggasifikasi korban-korban “final solution” mereka. Selain zyklon B, nazi jerman juga diketahui menggunakan gas CO. Zyklon B merupakan nama dagang dari produk pestisida berbasis sianida. Komposisi utama dari zyklon B adalah asam sianida ditambah dengan beberapa campuran lain yang berupa stabilizer, metil 2-bromoasetat, dan salah satu dari beberapa absorben seperti kieselguhr. Berbicara zyklon B berarti tak bisa lepas dari pembahasan tentang asam sianida (HCN) karena HCN merupakan bahan aktif dalam zyklon B dengan persen berat mencapai 45%. HCN adalah senyawa tak berwarna, beracun, dan berwujud cair pada suhu kamar dengan titik didih 26 derajat celcius dan titik lebur -13,4 derajat celcius. Meskipun HCN berbentuk gas, namun zyklon B sendiri justru dibuat dalam bentuk padatan pelet kecil granular dengan diameter sekitar 5 mm. Kerapatan dan panas spesifik dari zyklon B masing-masing adalah sekitar 1230 kg per meter kubik dan 1595,25 J/K Kg. Apakah fungsi stabilizer dan absorben dalam campuran zyklon B? Stabilizer apa yang secara jamak digunakan dalam zyklon B? Apa fungsi dari “a warning odorant” metil 2-bromoasetat dalam zyklon B? Bagaimana prosesnya pembuatan zyklon B sehingga ia akhirnya berwujud padat dari HCN yang semula berwujud cair pada suhu kamar?

Categories: KIMIA Tags:

Hasyaysin

November 12, 2011 Leave a comment

Dalam Syi’ah, perpecahan terjadi diantara para ekstrimis dan moderat setelah wafatnya Ja’far Shadiq pada 765, imam yang keenam setelah  Ali. Pada waktu itu, anak yang tertua Ja’far adalah Ismail. Karena alasan-alasan yang belum jelas, dan barangkali karena kerja samanya dengan elemen-elemen ekstrimis, Ismail tidak dianggap sebagai pewaris keimaman, dan sebagian besar orang Syiah menjadikan adiknya yakni Musa al-Kazim sebagai Imam ketujuh. Garis keturunan Musa bersambung hingga imam kedua belas yang menghilang pada 873, beliau tetap menjadi imam ‘yang dinantikan’ atau imam Mahdi, bagi sebagian besar orang-orang Syi’ah saat ini. Para pengikut  keduabelas imam tersebut terkenal dengan nama Itsna Asyariyah atau Twelver Syiah yang merupakan  sekte yang paling moderat di antara  sekte yang lain. Perbedaan mereka dari Sunni hanya sebatas pada pokok-pokok ajaran  tertentu saja yang pada tahun-tahun terakhir menjadi tidak signifikan lagi. Sejak abad XVI sekte Syiah  Itsna syariyah menjadi  anutan resmi penduduk Iran (Bernard Lewis, 1967: 26.

Kelompok yang lain mengikuti Ismail dan keturunannya, dan dikenal sebagai  Ismailiyah. Untuk sekian lama bekerja secara diam-diam, dan mendirikan sebuah sekte yang terorganisir dengan baik dan memiliki daya tarik intelektual maupun emosional yang jauh melampaui saingan-saingannya. Untuk mengganti semrawutnya dugaan-dugaan dan takhayul primitif dalam sekte-sekte Ismailiyah yang terdahulu, sejumlah teolog terkemuka membangun sebuah sistim doktrin religius yang mengandung filsafat tingkat tinggi dan mengarang berbagai karya yang, setelah beberapa abad kemudian masih diakui kehebatannya. Bagi orang-orang saleh, sekte Ismailiyah sebenarnya juga menghormati al-Qur’an, hadits, dan Syari’ah sama halnya dengan yang dilakukan oleh orang-orang Sunni. Dalam masalah intelektual, mereka memberikan penjelasan-penjelasan filosofis mengenai alam semesta, dengan merujuk pada sumber-sumber kuno khususnya ide-ide platonik. Dalam masalah spiritual membawa  kehangatan, kepercayaan emosional dan personal yang disokong oleh contoh penderitaan para imam dan pengorbanan para pengikutnya —pengalaman tentang gairah dan pencapaian  kebenaran.  Kepada orang-orang yang tidak puas terhadap penguasa, mereka menawarkan daya tarik sebuah gerakan oposisi yang kuat, tersebar luas, dan terorganisir dengan baik, yang tampaknya mampu menawarkan kemungkinan untuk menggulingkan penguasa yang ada, dan membangun sebuah tatanan masyarakat baru yang adil, dipimpin oleh Imam –pewaris nabi yang dipilih oleh Tuhan dan satu-satunya pemimpin  yang paling tepat untuk seluruh manusia.

Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa pada masa sepeninggal al-Mustansir (1035-1094M), gerakan Ismailiyah mengalami perpecahan serius dengan adanya dua kelompok yang berada di belakang kedua putra Al-Mustansir yakni Nizar dan Al-Musta’li. Kelompok Nizar cendrung ekstrem dan aktif, basis gerakannya di Suriah dan Persia. Kelompok Nizar inilah yang menjadi cikal bakal dari kelompok Hasyasyin yang menentang kepemimpinan Fatimiyyah, bahkan Nizar mem proklamirkan dirinya sebagai khalifah yang syah dengan gelar Al-Musthafa li Din Allah (Ajid Thahir, 2004: 121-122). Kelompok Nizariyah dapat ditumpas kekuatannya oleh Khalifah Al-Musta’li. Sedangkan Kelompok Al-Musta’li lebih moderat, mereka adalah leluhur dari kelompok spiritual Ismailiyah Bohra di Bombay India (Bosworth, 1993: 73).

Sejarah Assassins
Assassins atau hasyasyin, begitulah sebutannya. Kata inilah yang kemudian populer saat terjadinya perang Salib, dan di Barat kata ini dibawa oleh Marco Polo, serta dipopulerkan oleh Edward Burman (1987) dan Bernard Lewis. Dalam sejarahnya, hasyasyin merupakan satu kelompok sempalan dari sekte Syiah Ismailiyyah. Hitti dalam bukunya tidak menyebutkan kata assassins, tetapi hasyasyin. Gerakan ini merupakan gerakan sempalan dari ajaran Ismailiyyah yang berkembang pada dinasti Fathimiyyah, Mesir. Hassan Sabbah (w. 1124) adalah pendirinya dan para anggota hasyasyin menyebut gerakan mereka sebagai da’wah jadidah (ajaran baru). Menurut Hitti, Hassan Sabbah mengaku sebagai keturunan raja-raja Himyar di Arab Selatan. Menurutnya motif gerakan ini murni memuaskan ambisi pribadi, dan dari sisi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam (Philip K. Hitti, 2010: 565). Hassan Sabbah dilahirkan di kota Qumm, salah satu pusat perkampungan Arab di Persia dan benteng orang-orang Syi’ah Itsna Asyariyah. Ayahnya, seorang pengikut Syiah Itsna Asyariyah, datang dari Kufah, Iraq, dan dikatakan sebagai orang asli Yaman. Tanggal kelahiran Hasan tidak ketahui, namun barangkali sekitar pertengahan abad XI. Ketika dia masih kecil, ayahnya pindah ke Rayy –kota modern di dekat Tehran, di sana Hasan mendapatkan pendidikan agamanya. Rayy merupakan pusat aktivitas para dai semenjak abad IX dan tak lama kemudian Hasan mulai terpengaruh oleh mereka (Philip K. Hitti, 2010: 565).

Alamut merupakan basis pertahanan dari hasyasyin. Benteng ini dibangun di atas punggung bukit di puncak sebuah gunung batu yang tinggi pada jantung pegunungan Elburz, serta mempunyai sebuah lembah yang tertutup dan kuat, yang panjangnya sekitar 30 mil, dan  luasnya 3 mil. Tinggi gunung tersebut sekitar 6000 kaki di atas permukaan laut, dan hanya bisa dicapai melalui sebuah jalan sempit, curam dan berliku. Untuk mendekati batu tersebut orang harus melalui jurang sempit di sungai Alamut, yang terletak diantara jurang tegak lurus dan kadang menggantung.

Istana tersebut dikatakan telah dibangun oleh salah seorang raja Daylam. Ketika dia sedang keluar untuk berburu dia kehilangan burung Elang piarannya yang ternyata hinggap di gunung batu tersebut. Raja melihat nilai strategis posisi gunung batu tersebut dan saat itu pula dia membangun sebuah istana di atasnya. Dia memberi nama istana tersebut Aluh Amut yang dalam bahasa orang-orang Daylam berarti ajaran burung Elang.

Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh hasyasyin dipandang mempunyai peranan penting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Dalam berbagai upayanya untuk mencapai tujuan, mereka menggunakan pisau-pisau belati yang indah, yang menjadikan pembunuhan sebagai seni. Organisasi rahasia mereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuan untuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihan para nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun. Di bawah mahaguru ada tingkatan guru senior yang masing-masing bertanggung jawab atas setiap daerahnya. Di bawahnya, ada dai-dai biasa, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah para fida’i yang selalu siap sedia melaksanakan setiap perintah sang Mahaguru (syekh, the elder, orang tua) (Philip K. Hitti, 2010: 565).

Hasyasyin juga cukup dikenal di dunia Barat. Persentuhannya dengan Barat, menurut Lewis, dimulai ketika belati mereka tertancap pada Conrad of Montferrat, raja  kerajaan Latin Yerusalem. Pembunuhan tersebut, menurut Lewis, menimbulkan kesan yang mendalam pada para pasukan perang salib, dan mayoritas kronikus perang salib III mempunyai  pengungkapan sesuatu mengenai sekte yang menakutkan tersebut,  dan keyakinan serta cara-caranya yang aneh, serta pemimpin mereka yang mengagumkan. “Saya  mengaitkan beberapa hal pada si syekh (the elder) ini” kata penulis kronik Jerman, Arnold of Lubbeck, “yang tampak menggelikan namun dapat saya buktikan dengan bukti-bukti serta saksi-saksi yang terpercaya. Mahaguru ini mempunyai ilmu sihir yang dapat membikin kagum banyak orang di negerinya, yang membuat mereka tidak  menyembah dan tidak pula percaya kecuali kepadanya. Dia memikat mereka juga dengan cara yang aneh, seperti memberi harapan-harapan, janji-janji kesenangan dan kebahagiaan abadi, yang  membuat mereka lebih memilih mati  untuk mendapatkannya. Bahkan banyak diantara mereka yang akan terjun dari dinding yang tinggi yang akan menghancurkan kepala mereka dan membuat mereka mati dengan cara yang amat mengerikan, hanya dengan  aba-aba anggukan kepala atau  perintahnya. Ketika beberapa diantara mereka lebih memilih mati dengan cara ini —membunuh seseorang dengan keahliannya dan kemudian mereka akan membunuh diri mereka hingga sekarat dalam keberkatan—, sang mahaguru memberikan mereka belati yang disiapkan secara khusus untuk prosesi ini,  dan kemudian dia memberi semacam obat yang dapat membuat mereka mabuk serta lupa, kemudian mereka ditunjukkan, dengan magisnya, pada mimpi-mimpi yang fantastis, penuh kesenangan, atau semacam itu. Tidak hanya berhenti di situ saja, sang mahaguru menjanjikan bahwa mereka akan menikmati kebahagiaan seperti itu selamanya sebagai balasan perbuatan yang telah mereka lakukan” (Bernard Lewis, 1967: 4).

Menurut Lewis, bagi para korbannya, para hasyasyin adalah orang-orang kriminal fanatik yang bergerak dalam konspirasi pembunuhan melawan agama dan masyarakat. Bagi para pengikut Ismailiyah, mereka adalah korps  elit yang berperang melawan musuh-musuh  imam; dengan   menjatuhkan para penindas dan perebut kekuasaan, mereka memberikan bukti nyata akan kepercayaan dan loyalitas mereka, serta  segera memperoleh  kebahagiaan yang abadi. Orang-orang Ismailiyah sendiri menggunakan istilah fidai —yang secara kasar berarti pengikut setia— untuk  menyebut pasukan pembunuh mereka, dan sebuah syair Ismailiyah yang indah memuji keberanian dan kesetiaan total mereka. Dalam sebuah kronik lokal Ismailiyah di Alamut, yang ceritakan oleh Rashid ad-Din dan Kashani, ada sebuah daftar pujian untuk pembunuhan-pembunuhan, yang juga menyertakan nama-nama korban beserta para pembunuhnya ((Bernard Lewis, 1967: 48).

Dari segi bentuk, orang-orang Ismailiyah merupakan sebuah masyarakat rahasia, yang mempunyai sistem sumpah, inisiasi serta tingkatan-tingkatan pangkat dan pengetahuan. Rahasia-rahasia mereka terjaga dengan baik, dan informasi mengenai mereka terpisah-pisah serta membingungkan. Orang-orang ortodoks yang suka berpolemik melukiskan orang-orang Ismailiyah sebagai gerombolan orang-orang nihilis palsu yang menipu korban-korbannya melalui tahapan-tahapan penistaan yang terus menerus, dan pada akhirnya memperlihatkan hal-hal yang amat buruk kepada orang-orang yang tidak mempercayai mereka.

Para penulis Ismailiyah melihat sekte ini sebagai penjaga misteri yang suci yang hanya bisa dicapai setelah melalui rangkaian panjang persiapan serta proses.  Istilah yang umum dipergunakan untuk organisasi sekte ini adalah da’wa  (dalam bahasa Persianya Da’vat), yang berarti missi atau ajaran; agen-agennya adalah para dai atau missionaris —secara literal berarti penyeru atau pengajak— yang merupakan suatu jabatan kependetaan melalui pengangkatan. Dalam laporan-laporan Ismailiyah belakangan mereka dibagi keberbagai macam tingkatan  dai, guru, murid  –tingkatan  rendah atau  tinggi-, sedangkan di bawah mereka adalah mustajib —secara literal berarti simpatisan atau responden, yang merupakan murid yang paling rendah— tingkatan yang paling tinggi adalah hujjah (dalam bahasa Persianya Hujjat),  dai senior. Kata jazirah ‘pulau’, digunakan untuk menunnjukkan teritorial atau yurisdiksi etnik yang diketuai oleh seorang dai (Bernard Lewis, 1967: 49).

Gambaran yang dideskripsikan oleh Lewis di atas sangat menarik, karena hal seperti ini pula sebenarnya yang memacu seseorang untuk melaksanakan jihad fi sabilillah dengan mengangkat pedang. Penjelasan mengenai surga —seperti yang dipaparkan dalam al-Qur’an— yang  di dalamnya terdapat sungai anggur, madu, dan susu, perempuan-perempuan cantik, serta kebun-kebun yang belum pernah dilihat di mata disuguhkan secara konkrit oleh sang mahaguru, sehingga pemuda yang disiapkan menjadi hasyasyin benar-benar percaya dan tidak memiliki alasan untuk tidak percaya bahwa itulah surga. Dan memang pada masa perang salib, hal ini memberikan kesan yang mendalam mengenai taktik dan strategi hasyasyin dalam meneror dan membunuh target-target yang menjadi korbannya. Dan tidak itu saja, Lewis mensinyalir bahwa hasyasyin juga sering disewa oleh orang-orang Barat untuk membunuh musuh-musuhnya. Dalam setiap pembunuhan yang mereka lakukan, baik di persia maupun di Syiria, para Hasyasyin selalu menggunakan belati; tidak pernah memakai racun atau peluru meskipun dalam banyak kesempatan hal itu akan membuat pembunuhan menjadi lebih mudah dan lebih aman. Menurut Lewis, seorang Hasyasyin hampir pasti selalu tertangkap, dan biasanya mereka memang tidak berusaha melarikan diri; bahkan ada anggapan bahwa selamat setelah melaksanakan tugas merupakan suatu hal yang memalukan. Seorang pengarang Barat abad XII mengatakan: “ketika kemudian ada beberapa orang di antara mereka yang memilih mati dengan cara ini… dia sendiri (baca: sang ketua) akan memberi mereka pisau yang menurutnya memang disiapkan untuk itu…”(Bernard Lewis, 1967: 47). Hal ini dikarenakan sang hasyasyin benar-benar mengharapkan surga.

Sisa-sisa Hasyasyin Saat Ini (Abad XIX-XX)
Bagaimana keadaan sekte ini pada saat ini? Lewis dalam buku Assassins mengungkapkan bahwa pada 1833, dalam Journal of The Royal Geographical Society, seorang pegawai British yang dikenal dengan Colonel W. Monteith dalam perjalanannya telah sampai pada pintu masuk lembah Alamut, tetapi belum benar-benar sampai  atau mengenali istana tersebut. Lebih jauh dia menuliskan bahwa hal ini kemudian berhasil dilakukan oleh seorang saudara W. Monteith, Lieutenant Colonel (sir) Justin Sheil, yang laporannya diterbitkan pada jurnal yang sama tahun 1838. Seorang pegawai British yang ketiga yang bernama Stewart mengunjungi istana tersebut beberapa tahun kemudian. Setelah itu, baru satu abad kemudian penelitian mengenai Alamut dimulai lagi.

Data ini kemudian Lewis perkuat dengan mengatakan bahwa, pada 1811, Rousseau, konsul dari Aleppo, dalam sebuah perjalanan ke Persia menyelidiki pengikut Ismailiyah dan kaget saat mengetahui bahwa di kota tersebut masih banyak yang masih setia pada seorang imam yang bergaris keturunan Ismail. Nama imam tersebut adalah Shah Khalilullah, ia tinggal di sebuah desa yang bernama Kehk, dekat Qumm, yang terletak diantara Tehran dan Isfahan. Menurut Rousseau, Shah Khalilullah hampir dianggap sebagai tuhan oleh para pengikutnya, dan dianggap memiliki mu’jizat, dan mereka terus menerus mempersembahkan harta kekayaan  dari harta benda milik mereka dan seringkali mereka menjulukinya sebagai khalifah. Bahkan banyak pengikut Ismailiyah yang berada di India, mereka  secara reguler datang ke Kehk melalui pinggiran sungai Gangga dan Indus untuk menerima berkah dari imam mereka, sebagai balasan kebaikan dan sumbangan mereka (Bernard Lewis, 1967: 14).

Pada tahun 1825 seorang pelancong Inggris, J.B. Fraser mengkonfirmasikan keberadaan pengikut Ismailiyah di Persia dan ketaatan mereka kepada para pemimpinnya, meski mereka tidak lagi mempraktekkan pembunuhan dengan perintah para pemimpinnya;  namun hingga saat ini Shah atau pemimpin sekte tersebut dipuja secara membabi buta oleh para pengikutnya yang masih tersisa, meskipun kegiatannya benar-benar sudah berbeda dengan karakter sekte pada awalnya. Ada juga beberapa pengikut sekte ini yang bertempat tinggal di India, yang  masih setia pada pemimpinnya. Pemimpin yang dahulu, Shah Khalilullah telah terbunuh di Yazd beberapa tahun sebelumnya (tahun 1817), oleh para pemberontak yang melawan gubernur. Dia  kemudian digantikan –dalam kapasitas keagamaannya— oleh salah seorang anaknya yang mendapatkan penghormatan serupa dari sekte tersebut.

Lebih jauh, Lewis mengungkapkan bahwa pada Desember 1850 sebuah kasus pembunuhan yang besar disidangkan pada pengadilan kriminal di Bombay  empat orang tergeletak dan terbunuh di jalan pada siang hari bolong, yang merupakan akibat adanya perbedaan pendapat dalam komunitas keagamaan tempat mereka berada. Sembilan belas orang diadili dan empat dari mereka divonis mati dan digantung. Para korban serta para penyerangnya dikenal sebagai orang-orang Khoja; sebuah komunitas kecil, kebanyakan terdiri dari pedagang di daerah Bombay dan beberapa bagian lain di India.

Kejadian tersebut dipicu oleh sebuah perselisihan yang telah berlangsung selama dua puluh tahun lebih. Kejadian tersebut dimulai pada 1827, ketika sebuah kelompok Khoja menolak untuk membayar Upeti kepada pemimpin sekte mereka yang tinggal di Persia. Pemimpin tersebut adalah putera dari Shah Khalilullah, yang menggantikan ayahnya yang terbunuh pada 1817. Pada 1818 Syah Persia menunjuknya menjadi gubernur Mahallat dan Qumm, dan memberinya gelar Aga Khan. Dengan gelar inilah dia beserta keturunannya  dikenal secara luas. Menghadapi penolakan tiba-tiba yang dilakukan oleh para pengikutnya di India untuk membayar kewajiban-kewajiban keagamaan mereka, Aga Khan mengirimkan utusan khusus dari Persia ke Bombay agar mereka kembali ke dalam kelompok. Turut serta dalam utusan tersebut nenek Aga Khan yang akan berpidato pada para pengikut Khoja di Bombay untuk memperoleh kembali kesetiaan mereka. Mayoritas komunitas Khoja masih setia kepada pemimpin mereka, tetapi ada sekelompok kecil yang masih tetap bersikukuh pada sikap menentang dan menegaskan bahwa mereka tidak mempunyai kewajiban untuk patuh terhadap Aga Khan dan tidak mengakui bahwa komunitas Khoja masih terikat dengannya. Dampak konflik tersebut melahirkan ketegangan dalam komunitas Khoja dan berpuncak dengan pembunuhan di tahun 1850.

Pada saat itu Aga Khan sendiri telah meninggalkan Persia, karena dia tidak berhasil memimpin sebuah pemberontakan melawan Shah, dan setelah tinggal sebentar di Afghanistan, ia kemudian berlindung di India. Jasanya kepada  kepada orang-orang Inggris di Afghanistan dan Sind membuatnya memperoleh  terima kasih dari mereka. Setelah pada awalnya tinggal  di Sind dan kemudian di Calcuta, dia akhirnya tinggal di Bombay dimana dia mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin komunitas Khoja. Kendati demikian ada beberapa orang yang tidak setuju yang kemudian menentangnya, orang-orang tersebut menggunakan sarana-sarana hukum untuk mengalahkannya. Setelah mengadakan persiapan, pada bulan april 1866, kelompok penentang itu mengajukan berkas-berkas tuntutan perkara kepada pengadilan tinggi di Bombay, dengan tuntutan agar Aga Khan dilarang melakukan  intervensi terhadap urusan-urusan serta hak milik komunitas Khoja.

Masalah ini ditangani oleh Hakim Ketua Sir Joseph Arnould. Hearing berlangsung selama 25 hari, dan melibatkan hampir seluruh elemen pengadilan. Kedua kelompok mengajukan argumentasi-argumentasi serta  berkas-berkas perkara, penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh pengadilan cukup luas dan mendalam, baik dalam aspek sejarah, garis keturunan, teologi dan hukum. Aga Khan sendiri memberikan kesaksian dan mengemukakan bukti-bukti tentang keturunannya. Pada tanggal 12 November 1866 Sir Joseph Arnould menyampaikan keputusan. Komunitas Khoja Bombay, menurutnya, merupakan bagian dari komunitas besar Khoja di India yang ajarannya berasal dari Ismailiyah yang merupakan cabang dari Syiah; mereka adalah sebuah sekte  yang para leluhurnya berasal dari Hindu, yang telah berpindah keyakinan  ke dalam kepercayaan Syiah Ismailiyah; serta selalu dan masih  terikat hubungan kesetiaan spiritual terhadap para imam Ismailiyah. Mereka   telah dijadikan pengikut pada 400  tahun yang lalu oleh dai-dai Ismailiyah dari Persia, dan  tetap berada di bawah pengaruh otoritas spiritual  imam-imam Ismailiyah, yang imam terakhirnya adalah Aga Khan. Para imam tersebut keturunan dari para raja Alamut, dan melalui mereka, menjadi keturunan Khalifah Fathimiyah di Mesir, dan akhirnya keturunan Nabi SAW. Pengikut mereka pada  abad pertengahan  terkenal dengan nama Hasyasyi.

Tampaknya Lewis sangat percaya dengan keputusan Arnould yang dengan didukung oleh data-data dan argumentasi historis yang kuat, kemudian secara legal mengukuhkan status komunitas Khoja sebagai bagian dari Ismailiyah, bahwa Ismailiyah  merupakan keturunan dari para Hasyasyin, dan Aga Khan sebagai pemimpin spiritual Ismailiyah dan keturunan dari imam-imam Alamut.

Keputusan Arnould juga menimbulkan perhatian terhadap eksistensi komunitas Ismailiyah di daerah-daerah lain di seluruh dunia, orang-orang yang sebenarnya tidak mengakui Aga Khan sebagai pemimpin mereka. Kelompok-kelompok ini biasanya merupakan kelompok  minoritas, berada di daerah terpencil dan terisolasi, sulit dicapai dari manapun, suka menyembunyikan pudarnya kepercayaan dan hilangnya karya-karya tulis mereka. Beberapa tulisan dalam bentuk manuskrip  sampai ke tangan para sarjana. Pada awalnya kesemuanya datang dari Syiria –wilayah pertama yang menjadi pusat perhatian orang-orang Barat modern untuk menyelidiki Ismailiyah, baik pada era modern maupun pada abad pertengahan. Yang lain kemudian menyusul, dari berbagai wilayah yang berbeda-beda. Pada tahun 1903, seorang pedagang Italia, Caproti, membawa sekitar 60-an manuskrip Arab dari San’a, di Yaman, yang menjadi  kumpulan buku pertama yang disimpan di perpustakaan Ambrosiana, di Milan. Dalam pemeriksaan,  mereka juga mengerjakan karya-karya yang berisi doktrin-doktrin Ismailiyah, yang berasal dari pengikut-pengikut  Ismailiyah yang masih hidup di Arab bagian selatan. Di antara buku-buku tersebut, ada yang berisi sandi-sandi rahasia. Ketika di Eropa sudah tidak ada sumber-sumber baru lagi,  para Sarjana Russia, yang telah menerima beberapa manuskrip sekte Ismailiyah  dari Syiria, menemukan  bahwa di negara mereka juga ada pengikut Ismailiyah yang tinggal di perbatasan kerajaan mereka, dan pada tahun 1902 Count Alexis Bibrinskoy menerbitkan sebuah laporan tentang pengorganisasian dan penyebaran orang-orang Ismailiyah di Russia, Asia Tengah. Pada waktu yang sama seorang pegawai kolonial A. Polostsev memperoleh salinan  sebuah buku keagamaan sekte Ismailiyah yang ditulis dalam bahasa Persia. Buku tersebut ditempatkan pada museum Asiatic  milik Russian Academy of the Scientist.  Salinan  lainnya menyusul,  dan antara 1914 dan 1918 museum tersebut mendapatkan sebuah koleksi manuskrip Ismailiyah yang dibawa dari Shugnan -yang terletak diatas sungai Oxus- oleh dua orientalis I.I. Zarubin dan A.A. Semyonov. Dengan manuskrip-manuskrip ini serta manuskrip-manuskrip yang didapatkan setelahnya, para sarjana Russian mampu menyelidiki literatur keagamaan dan kepercayaan sekte Ismailiyah Pamir dan beberapa distrik yang berbatasan dengan Afghanistan di Badakhsan.

Kritik Atas Lewis
Ada beberapa poin yang hendak saya pakai dalam mengulas dan mengkritisi Lewis ini. Poin-poin tersebut antara lain: pertama, mencoba mengenali karakter hasyasyin dalam konteks Timur Tengah saat ini, terutama kaitannya dengan terorisme yang seringkali menyudutkan umat Islam; kedua, melihat posisi Lewis sebagai seorang orientalis yang menjadi rujukan masyarakat Barat dalam masalah Irak, Iran, dan Afghanistan, serta rujukan-rujukan buku yang digunakannya; ketiga, menempatkan posisi Lewis dalam kerangka kritik Edward Said dalam membongkar ideologi orientalisme.

·    Mengenali Karakter Hasyasyin Pada Konteks Saat Ini

Di beberapa negara Islam, kasus adanya bom bunuh diri merupakan satu hal yang tidak aneh dan tidak mengejutkan. Biasanya bom bunuh diri baik dibawa sendiri ataupun diledakkan sendiri dari dalam mobil, merupakan karakter khas dari orang-orang yang merasa dirinya kalah dan kehilangan akal dalam menghadapi musuhnya. Pada saat ini, hal seperti ini banyak dilakukan kelompok ekstrim Islam kepada Barat (yang menurut mereka adalah kafir yang harus diperangi). Jika dianalogkan dengan hasyasyin, berarti kejadian pemboman ini tidak berasal dari ruang hampa. Karena hasyasyin pun juga tidak mau melarikan diri setelah targetnya berhasil dibunuh, bahkan jika disuruh sang guru pun dia akan membunuh dirinya sendiri, bahkan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bila target musuhnya sudah terbunuh dan misinya tercapai, si hasyasyin tidak melarikan diri, mereka siap dan surga sudah ada di depan mereka (satu kepercayaan yang sama sekali tidak dapat dipahami pada saat ini—bagaimana membunuh orang bisa dikatakan masuk surga. Hal yang sama pula dengan yang dilakukan oleh para pembajak dua pesawat yang ditabrakkan pada gedung WTC AS pada 2001. Tidak hanya ke Barat saja, di dalam Islam sendiri pun juga sering terjadi bom bunuh diri, misalnya di Irak ataupun Iran, dimana targetnya adalah orang Islam sendiri namun berbeda pandangan dengan si pembawa bom bunuh diri. Hal ini paling tidak menunjuk pada adanya analogi hasyasyin pada masa lalu dengan masa sekarang, hanya saja peralatan dan modusnya saja yang berbeda bentuk.

Dalam kasus ini, penelitian Lewis dalam buku The Assassins menemukan relevansinya, sehingga kemudian tak heran jika dia menjadi salah satu staf Ahli militer Bush dalam penyerangan ke Irak demi menghancurkan al-Qaeda yang dianggap organisasi teroris. Karena di samping dianggap kompeten dalam masalah ini, dia juga pakar masalah Middle East.

·    Melihat Sumber-sumber yang Digunakan Lewis
Saya melihat data-data yang digunakan oleh Lewis kebanyakan adalah data-data yang berasal dari para orientalis sebelumnya. Memang ada beberapa rujukan yang digunakan Lewis yang berasal dari sarjana muslim, seperti al-Juwaini, Rashid ad-Din, dan lain-lain, namun yang dipergunakan adalah sumber-sumber dari pihak lawan. Memang dia mengatakan bahwa sumber-sumber mengenai Ismailiyah yang ditulis oleh orang dalam sudah banyak dibakar dan dihancurkan seiring dengan dihancurkannya Ismailiyyah dan Alamut, sehingga data-data dari perspektif insider sama sekali tidak tercover di sini. Yang menarik di sini adalah, kepiawaian Lewis dalam menggiring opini mengenai keburukan dari hasyasyin, seolah-olah kelompok ini sama sekali tidak ada sisi kebaikannya. Yang tak kalah menariknya  adalah dia mendukung hal ini dengan data-data konkrit. Seolah dia hendak membuat satu kebenaran mengenai buruknya hasyasyin, tanpa harus mengetahui berbagai motif yang konkret yang dijadikan argumen oleh kelompok ini. Jika meminjam bahasa Michel Foucault, kebenaran adalah kekuasaan. Bagi Foucault, terdapat lima ciri politik ekonomi keberan: kebenaran berpusat pada bentuk diskursus ilmiah dan istitusi yang memproduksinya. Ia adalah subjek bagi rangsangan konstan ekonomi dan politik (kebutuhan akan kebenaran sama banyaknya dengan produksi ekonomi atau kekuasaan politik); ia adalah objek difusi besar-besaran dan konsumsi besar-besaran (yang beredar melalui perangkay pendidikan dan informasi yang meluas secara relatif dalam; lembaga sosial, tanpa ada batas yang tegas); ia diproduksi dan ditransmisikan di bawah aparatur sentral dan dominan—kalau tidak eksklusif—dari segelintir aparatur besar politik dan ekonomi (universitas, angkatan bersenjata, tulisan, dan medua); dan yang terakhir ia adalah masalah dari keseluruhan debat politik dan konfrontasi sosial (perjuangan ideologis) (Michel Foucault, 1980: 131-132).

Lewis membentuk kebenaran melalui data-data yang didisplay olehnya, sehingga ketika buku ini telah jadi dan tersebar, buku inipun dikonsumsi dan membentuk satu opini publik AS mengenai gerakan-gerakan militan Islam. Hal inilah yang perlu dicermati dari sosok Lewis. Akhirnya peta-peta terorisme di dunia timur tengah yang terbentuk jika membaca buku ini adalah Iran, Irak, Syiria, dan Afghanistan.

·    Bernard Lewis dalam Kerangka Kritik Edward Said
Bagi Edward W. Said, Lewis merupakan kasus yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena kedudukannya dalam dunia politik Timur-Tengah, Inggris, dan Amerika adalah sebagai seorang orientalis kawakan. Apa pun yang ditulisnya akan selalu dibarengi dengan “otoritas” dan “validitas” yang diberikan masyarakat Eropa pada setiap karyanya. Menurut Said, selama kira-kira setengah dasawarsa, karya-karya Lewis hampir selalu bersifat agresif ideologis meskipun ia tidak bisa lepas dari kesulitan dan ironi. Lebih jauh Said menyatakan bahwa tulisan Lewis bukanlah salah satu contoh sempurna akademisi orientalis yang berlandaskan pada pengetahuan yang benar-benar objektif. Lebih dari itu, tulisan Lewis justru lebih dekat pada tulisan yang berwujud propagandistis, yakni dengan menentang objek bahasan­nya (Edward W. Said, 1978: 318-320). Meski demikian, kenyataan ini tentu bukan sesuatu yang mengejutkan bagi siapa pun yang akrab dengan sejarah orientalisme. Yang jelas, tulisan Lewis ini lebih tampak sebagai salah satu skan­dal “kecendekiaan” yang paling akhir dan yang paling sering tidak mendapatkan kritik yang memadai dari para cendekiawan lainnya di Barat. Tulisan hasyasyin ini merupakan salah satu tulisan yang digarap Lewis untuk menentang objek bahasannya sendiri. Secara lebih jauh Said menegaskan bahwa ideologi Lewis mengenai Islam adalah bahwa Islam tidak pernah berubah, dan dengan bahasa yang lebih vukgar lagi Said menyatakan bahwa Lewis memiliki misi untuk memberikan informasi kepada masyarakat pembacanya yang konservatif, Yahudi, dan siapapun juga yang sudi mendengar, bahwa semua penuturan politik, sejarah, dan kecendekiaan mengenai kaum muslim harus dimulai dan diakhiri dengan kenyataan bahwa kaum muslim tetaplah kaum muslim (tidak berubah), tak lebih dari itu. Dari sini pula kita melihat bahwa salah satu cara untuk menelanjangi pemikiran Lewis adalah dengan menggunakan kacamata pendekatan poskolonialisme.

Secara lebih jauh, bagi Said, orientalisme merupakan suatu aliran penafsiran yang menjadikan Timur, peradaban-peradabannya, orang-orangnya, dan lokalitas-lokalitasnya sebagai objek interpretasi. Dan yang menarik menurut Edward Said, aliran ini selalu mendapat legitimasi yang besar secara moral. Secara lebih jauh Said mengatakan bahwa selama masih dalam kesadaran barat, Timur hanyalah satu kata yang kemudian diberi makna, asosiasi, dan konotasi. Bahkan semua hal ini tidak harus merujuk pada Timur ‘yang sebenarnya’ tetapi hal-hal lain yang berhubungan dengan kawasan itu (Edward W. Said, 1978: 318-320).

Daftar Pustaka

Ajid Thahir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Bosworth, The Islamic Dynasties, terjemah: Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1993.

Bernard Lewis, The Assassins: Radical Sect In Islam, London: Al Saqi Books. 1967.

Edward Burman, The Assassins: Holy Killers of Islam, Ed. Crucible, Wellingborough, 1987,

Edward W. Said, Orientalism, New York: Vintage Books, 1978.

Michel Foucault, Power/Knowledge, New York: Pantheon Books, 1980.

Philip K. Hitti, The History of Arabs, Jakarta: Serambi, 2010.

Dikopas dari http://ushuluddin.uin-suka.ac.id/id/article.php?a=YUgvcw%3D%3D=&l=sejarah-hasyasyin

Serangan Mongol

November 12, 2011 Leave a comment

Masa kejayaan Islam telah terukir dalam sejarah. Demikian pula dengan masa kemunduran dan kehancurannya yang tidak mungkin luput dari unsur-unsur sejarah atau historis. Hal ini bisa dilihat dari pengertian sejarah sebagaimana diformulasi-kan oleh Taufik Abdullah adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut[1].

Masa khilafah Abbasiyah dielu-elukan sebagai masa keemasan Islam. Karena pada masa ini kemajuan dalam berbagai bidang sangat pesat. Namun jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan per-adaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.[2]

Namun meski demikian, serangan Mongol hanyalah sebuah pamungkas yang menghancurkan kekhalifahan[3]. Karena benih-benih kemunduran dan kehancuran sebenarnya muncul dari kekhalifahan Abbasiyah itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari banyak bermunculan dinasti yang semakin melemahkan stabilitas pemerintahan Abbasiyah saat itu.

Dalam makalah ini, pertama akan dipaparkan asal-usul, watak dan peradaban bangsa Mongol. Kedua, faktor-faktor yang mendorong bangsa mongol untuk me-lakukan serangan. Ketiga, serangan-serangan yang dilakukan bangsa Mongol.

Bangsa Mongol, Watak, Asal-usul dan Peradabannya

Bangsa Mongol adalah suku bangsa di wilayah Mongolia, yang berbatasan dengan Cina di selatan, Turkestan di barat, Manchuria di timur, dan Siberia sebelah utara[4].

Daerah ini kalau musim dingin, amat dingin dan kalau musim panas, amat panas. Angin panas (Samun) sering menimpa mereka[5]. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggembala kambing, dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Mereka menganut agama Syamaniyah (Syamanism), me-nyembah binatang-binatang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit[6].

Bangsa ini berasal dari seorang tokoh terkemuka setempat bernama Alanja Khan. Ia mempunyai dua orang putra kembar bernama Tatar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Tatar dan Mongol. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan[7], yang melahirkan keturunan bangsa Mongol di kemudian hari[8].

Ilkhan mempunyai putra bernama Yasugi Bahadur Khan yang kemudian memiliki putra bernama Temujin, bergelar Jenghis Khan (Raja Yang Perkasa). Putra dari Jenghis Khan bernama Toluy/Tuli kemudian memiliki putra bernama Hulagu Khan. Hulagu Khan inilah yang menyerang dan menghancurkan kota Baghdad[9].

Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan[10]. Ia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, putranya Temujin[11] yang masih berusia 13 tahun tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan bangsa Mongol dengan suku bangsa lain sehingga menjadi satu pasukan yang teratur dan tangguh. Pada tahun 1206 M., ia mendapat gelar Jengis Khan, Raja Yang Perkasa[12]. Ia menetapkan undang-undang yang disebutnya Alyasak atau Alyasah, untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan.

Undang-undang Alyasak ini berisi antara lain; larangan mencari-cari kesalahan orang lain, larangan membantu salah seorang di antara dua orang yang berselisih, jujur dalam menerima kepercayaan, keharusan saling tolong-menolong dalam peperangan dan melaksanakan hukum dengan disiplin yang ketat tanpa pandang bulu. Di samping itu ada juga keharusan bagi warga negara untuk memperlihatkan anak gadisnya kepada raja untuk dijadikan sebagai istri anak-anaknya. Undang-undang ini dimasyarakatkan terus, sehingga merupakan sebuah agama yang senantiasa dipedomani dan dilanjutkan oleh penggantinya kemudian[13].

Undang-undang ini juga mengatur tentang hukuman mati bagi pezina, orang yang sengaja berbuat bohong, melaksanakan magic, mata-mata, memberi makan atau pakaian kepada tawanan perang tanpa ijin, demikian pula bagi yang gagal melaporkan budak belian yang melarikan diri juga dikenakan hukuman mati.

Jenghis Khan (melalui Alyasak) juga mengatur kehidupan beragama dengan tidak boleh merugikan antara satu pemeluk agama dengan yang lainnya, dan membebaskan pajak bagi keluarga Nabi Muhammad saw., para penghafal al-Qur’an, ulama, tabib, pujangga, orang saleh dan zuhud serta muazin/yang menyerukan adzan[14].

Sedangkan dalam urusan militer, prajurit-prajurit bersenjata lengkap diinspeksi terlebih dahulu sebelum pergi berperang, dan setiap orang harus memperlihatkan segala sesuatu yang ia miliki, bahkan sampai jarum dan benang sekalipun. Kemudian jika seseorang didapatkan lengah, maka dia harus dihukum. Orang-orang perempuan diharapkan siap untuk membayar pajak kepada perbendaharaan negara selama suami-suami mereka pergi berperang. Jenghis Khan juga mendirikan pos pelayanan agar dia bisa memantau dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di negaranya[15]. Dari sini tampak bahwa armada perang Mongol sangatlah kuat dan memiliki kedisiplinan tinggi, sehingga banyak ditakuti musuh-musuhnya.

Motivasi Serangan Mongol

Serangan-serangan yang dilakukan oleh Mongol memiliki latar belakang yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan penyerang tersebut. Maidir Harun dan Firdaus[16] memaparkan bahwa ada beberapa hal yang menjadi motivasi bagi Mongol untuk melakukan serangan, sebagai berikut:

1. Faktor Politik
Pada tahun 615 H. sekitar 400 orang pedagang bangsa Tartar dibunuh atas persetujuan wali (gubernur) Utrar. Barang dagangan mereka dirampas dan dijual kepada saudagar Bukhara dan Samarkand dengan tuduhan mata-mata Mongol. Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan Jenghis Khan. Jenghis Khan mengirimkan pasukan kepada Sultan Khawarizmi untuk meminta agar wali Utrar diserahkan sebagai ganti rugi kepadanya. Utusan ini juga dibunuh oleh Khawarizmi Syah sehingga Jenghis Khan dengan pasukannya melakukan penyerangan terhadap wilayah Khawarizmi[17].

2. Motif Ekonomi
Motif ini diperkuat oleh ucapan Jenghis Khan sendiri, bahwa penaklukan-penaklukan dilakukannya adalah semata-mata untuk memperbaiki nasib bangsanya, menambah penduduk yang masih sedikit, membantu orang-orang miskin dan yang belum berpakaian. Sementara di wilayah Islam rakyatnya makmur, sudah berperadaban maju, tetapi kekuatan militernya sudah rapuh.

3. Tabiat Orang Mongol yang Suka Mengembara
Tabiat mereka yang suka mengembara, diundang ataupun tidak diundang mereka akan datang juga menjarah dan merampas harta kekayaan penduduk dimana mereka berdiam. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Jenghis Khan dengan pasukan perangnya yang terorganisir, berusaha memperluas wilayah kekuasaan dengan melakukan penaklukan. Para ahli pertukangan mereka bawa dalam pasukan batalion Zeni (yon-zipur) untuk membuat jembatan dan menjamin melancarkan transportasi dalam penyerangan. Para tawanan perang dimanfaatkan secara paksa untuk memanggul perlengkapan perang dan makanan. Strategi perang Jenghis Khan yang tidak ketinggalan juga adalah membariskan penduduk sipil yang telah kalah di depan tentara sebagai tameng untuk menggetarkan musuh. Di samping itu, Jenghis Khan membawa penasehat yang terdiri dari para rahib dan tukang ramal.

Penyerangan Mongol dan Wilayah Kekuasaannya

Pada tahun 607 H./1211 M. Jenghis Khan meluaskan wilayahnya. Ia berhasil merebut Cina Utara dan mendirikan ibu kota Qaraqorun, lalu menduduki Siangkiang[18].

Penyerangan ke wilayah Islam dimulai melalui daerah Khawarizmi pada tahun 606 H/1209 M. Daerah yang menjadi tujuan utama mereka adalah Turki, Ferghana dan Samarkand, karena daerah ini yang berdekatan dan yang berkasus dengan mereka. Sewaktu bangsa Mongol memasuki wilayah Khawarizmi, sultan Alauddin sudah siap untuk memukul mundur pasukan Mongol. Pasukan Mongol kembali ke negeri asal mereka untuk melatih pasukannya dengan intensif. Sewaktu mereka kembali ke daerah Khawarizmi 10 tahun kemudian, sudah banyak perubahan terhadap pasukannya, sehingga mereka bisa memasuki Bukhara, Samarkand, Khurasan, Hamadzan, Quzwain dan sampai ke perbatasan Irak. Di Bukhara, ibu kota Khawarizmi, mereka kembali mendapat perlawanan dari sultan Alauddin, tetapi kali ini mereka dengan mudah dapat mengalahkan pasukan Khawarizmi. Sultan Alauddin tewas dalam pertempuran di Mazindaran tahun 1220 M. Ia digantikan oleh putranya Jalaluddin yang kemudian melarikan diri ke India karena terdesak dalam pertempuran di dekat Attock tahun 1224 M. Dari sana pasukan Mongol terus ke Azerbeijan. Penaklukkan Bukhara ini disebutkan oleh Jenghis Khan sebagai bencana dari Tuhan yang dikirimkan sebagai hukuman atas orang-orang yang berdosa[19].

Di Bukhara, sangat terkenal karena penduduknya yang taat dan ber-pengetahuan. Orang-orang Mongol menempatkan kuda mereka di sekeliling masjid yang suci dan menyobek-nyobek al-Qur’an untuk dibuang di tempat sampah, penduduk yang tidak dibantai diambil sebagai tawanan. Begitulah nasib kota Samarkand, Balkh dan kota-kota yang lainnya di Asia Tengah, yang merupakan tempat kebudayaan Islam yang tinggi, tempat tinggal orang-orang terkemuka dan pusat ilmu pengetahuan.[20]

Sepulangnya ke Ibu Kota Karaqorun, ia menumpas pemberontakan di wilayah Ala Shan dan Kausu, lalu meninggal dunia dan dikebumikan di tempat asalnya, Deligun Buldak.[21] Namun, sebelum Jenghis Khan meninggal pada tahun 624 H./1227 M[22], pada saat kondisinya mulai lemah, dia membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli.[23]

Juchi anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat dan stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia Selatan, di dalamnya terdapat Khawarizmi. Namun ia meninggal dunia sebelum wafat ayahnya, Jenghis Khan, dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Juchi yang bernama Batu dan Orda. Batu mendirikan Horde (Kelompok) Biru di Rusia Selatan sebagai pilar dasar berkembangnya Horde Keemasan (Golden Horde). Sedangkan Orda mendirikan Horde Putih di Siberia Barat. Kedua kelompok itu bergabung dalam abad keempatbelas yang kemudian muncul sebagai kekhanan yang bermacam ragamnya di Rusia, Siberia dan Turkistan, termasuk di Crimea, Astarakhan, Qazan, Qasimov, Tiumen, Bukhara dan Khiva. Syaibaniyah atau Ozbeg. Salah satu cabang keturunan Juchi berkuasa di Khawarazmi dan Transoxania dalam abad kelima belas dan enam belas[24]. Golden Horde selanjutnya berkembang menjadi kerajaan Mongol Islam pertama, yaitu pada saat diperintah oleh Barka Khan (anak dari Batu). Wilayahnya meliputi Eropa Timur (Rusia dan Finlandia) dan Eropa Tengah dan padang-padang stepa yang luas, dan beribukota di Lembah Wolga (Sarai). Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Najmuddin Mukhtar az-Zahidi menyusun risalah untuk Barka Khan. Risalah tersebut mengulas tentang kebenaran ajaran Islam dan kelemahan ajaran Nasranai, dengan dalail dan bukti yang logis, dapat diterima akal.[25] Hal inilah yang membuat Barka Khan masuk Islam.

Chagatai ditugasi untuk menguasai daerah Illi, Ergana, Ray, Hamazan dan Azerbeijan. Sultan Khawarizmi, Jalaluddin berusaha keras untuk merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Mongol ini, namun dia tidak sanggup menghadapi serangan Chagatai. Sultan melarikan diri ke arah pegunungan, tetapi malang padanya, seorang Kurdi membunuhnya. Dengan kematian Sultan Jalaluddin ini berakhirlah dinasti Khawarizmi. Dengan demikian Chagatai lebih leluasa mengembangkan wilayah kekuasaannya[26].

Ogotai[27] adalah putra Jenghis Khan yang terpilih oleh Dewan Pemimpin Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah di Pamirs dan Tien Syan. Tetapi dua generasi Kekhanan Tertinggi jatuh ke tangan keturunan Tuli. Walaupun demikian cucu Ogotai yang bernama Qaydu dapat mempertahankan wilayahnya di Pamirs dan Tien Syan, mereka berperang melawan anak turun Chagatay dan Kubilai Khan, hingga meninggal dunia tahun 1301[28]. Ogotai pada tahun 1234 dapat menaklukkan Peking[29] (sekarang Beijing) dan pada tahun 1240 dapat masuk kota Moskow[30].

Tuli (Toluy) anak terakhir Jenghis Khan ini mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Kubilai menggantikan Ogotai sebagai Khan Agung. Mongke bertahan di Mongolia yang beribu kota di Qaraqorun. Sedangkan Kubilai Khan menaklukkan Cina dan berkuasa di sana yang dikenal sebagai dinasti Yuan yang memerintah hingga abad keempat belas, yang kemudian digantikan oleh dinasti Ming. Mereka memeluk agama Budha yang berpusat di Beijing, dan mereka akhirnya bertikai melawan saudara-saudaranya dari khan-khan Mongol yang beragama Islam di Asia Barat dan Rusia (Kerajaan Golden Horde). Adalah Hulagu Khan, saudara Mongke Khan dan Kubilai Khan, yang menyerang wilayah-wilayah Islam sampai ke Baghdad.[31]

Pada tahun 1253, Hulagu Khan[32] bergerak dari Mongol memimpin pasukan berkekuatan besar untuk membasmi kelompok Pembunuh (Hasyasyin) dan menyerang kekhalifahan Abbasiyah. Inilah gelombang kedua yang dilakukan bangsa Mongol. Mereka menyapu bersih semua yang mereka lewati dan yang menghadang perjalanan mereka; menyerbu semua kerajaan kecil yang berusaha tumbuh di atas puing-puing imperium Syah Khawarizm. Hulagu mengundang Khalifah al-Musta’shim (1242-1258) untuk bekerjasama menghancurkan kelompok Hasyasyin Ismailiyah. Tetapi undangan itu tidak mendapat jawaban. Pada 1256, sejumlah besar benteng Hasyasyin, termasuk “puri induk” di Alamut, telah direbut tanpa sedikit pun kesulitan, dan kekuatan kelompok yang ketakutan itu hancur lebur. Bahkan lebih tragis lagi, bayi-bayi disembelih dengan kejam. Pada bulan September tahun berikutnya, tatkala merangsek menuju jalan raya Khurasan yang termasyhur, Hulagu mengirimkan ultimatum kepada khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Pada Januari 1258, anak buah Hulagu bergerak dengan efektif untuk meruntuhkan tembok ibukota. Tak lama kemudian upaya mereka membuahkan hasil dengan runtuhnya salah satu menara benteng.[33]

Khalifah al-Musta’shim benar-benar tidak dapat membendung “topan” tentara Hulagu Khan. Pada saat yang kritis itu, wazir khalifah Abbasiyah, Ibn al-‘Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah.[34] Ia mengatakan kepada khalifah, “Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Raja (Hulagu Khan) ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr, putera khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. Ia tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sultan-sultan Seljuk”.

Khalifah menerima usul itu. Ia keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikir dan orang-orang terpandang. Tetapi, sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Dengan pembunuhan kejam ini, berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Pebruari 1258. Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia muslim terbengkalai tanpa khalifah yang namanya biasa disebut dalam salat Jum’at.[35]

Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiria dan Mesir. Dari Baghdad pasukan Mongol menyeberangi sungai Euphrat menuju Syiria, kemudian melintasi Sinai, Mesir. Pada tahun 1260 mereka berhasil menduduki Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutuz, bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya.

Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha[36] kemudian melintasi Yordania menuju Galilie. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybars di ‘Ain Jalut. Pertempuran dahsyat terjadi, pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 September 1260.

Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh dinasti Ilkhan. Daerah yang dikuasai dinasti ini adalah daerah yang terletak antara Asia Kecil di barat dan India di timur, dengan ibukotanya Tabriz. Umat Islam, dengan demikian, dipimpin oleh Hulagu Khan. Hulagu meninggal tahun 1265 dan diganti oleh anaknya, Abaga (1265-1282) yang masuk Kristen.[37] Pada masa Abaga bangsa dinasti Ilkhan bersekutu dengan orang-orang Salib, penguasa Kristen Eropa, Armenia Cicilia untuk melawan Mamluk dan keturunan saudara-saudaranya dari dinasti Horde Keemasan (Golden Horde) yang telah bersekutu dengan Mamluk, penguasa muslim yang berpusat di Mesir.[38] Dari sini tampak bahwa adanya hubungan erat antara orang-orang Mongol dengan orang-orang Nasrani yang ingin menghancurkan Islam.

Ahmad Teguder (1282-1284), raja ketiga dinasti Ilkhan yang pertama kali masuk Islam. Karena masuk Islam, Ahmad Teguder ditantang oleh pembesar-pembesar kerajaan yang lain. Akhirnya, ia ditangkap dan dibunuh oleh Arghun yang kemudian menggantikannya menjadi raja (1284-1291). Raja dinasti Ilkhan yang keempat ini sangat kejam terhadap umat Islam. Banyak di antara mereka yang dibunuh dan diusir.

Selain Teguder, Mahmud Ghazan (1295-1304), raja yang ketujuh, dan raja-raja selanjutnya adalah pemeluk agama Islam. Dengan masuk Islamnya Mahmud Ghazan —sebelumnya beragama Budha— Islam meraih kemenangan yang sangat besar terhadap agama Syamanisme. Sejak itu pula orang-orang Persia mendapatkan kemerdekaannya kembali.[39] Dari sini terlihat bahwa meskipun wilayah Islam secara politis telah ditaklukkan dan dikuasai oleh dinasti Ilkhan, tetapi akhirnya Mongol sendiri terserap ke dalam kultur Islam. Sehingga para raja-raja dinasti Ilkhan akhirnya memeluk agama Islam.[40]

Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, Ghazan mulai memperhatikan per-kembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastra. Ia amat gemar kepada kesenian terutama arsitektur dan ilmu pengetahuan seperti astronomi, kimia, mineralogi, metalurgi dan botani. Ia membangun semacam biara untuk para darwis, perguruan tinggi untuk mazhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium, dan gedung-gedung umum lainnya. Ia wafat dalam usia muda, 32 tahun, dan digantikan oleh Muhammad Khubanda Uljeitu (1304-1317), seorang penganut Syi’ah yang ekstrim. Ia mendirikan kota raja Sultaniyah, dekat Zanjan. Pada masa pemerintahan Abu Sa’id (1317-1335), pengganti Muhammad Khubanda, terjadi bencana kelaparan yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan malapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan ini terpecah belah sepeninggal Abu Sa’id. Masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya, mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk.[41]

Kesimpulan

Sejarah kejayaan dan keemasan Islam dibumihanguskan dalam masa kurang lebih 5 tahun. Hal ini ditandai dengan adanya serangan yang dilakukan oleh Hulagu Khan sejak 1253 ke wilayah Baghdad (pusat pemerintahan bani Abbasiyah) hingga 1258.

Serangan Mongol (Jenghis Khan) bermula dari perampasan dan pembunuhan oleh Gubernur Utrar terhadap para pedagang bangsa Tartar pada 615 H./1219 M. dengan tuduhan mata-mata Mongol. Disamping memang sudah menjadi tabiat orang Mongol yang suka berperang ditambah lagi dengan dorongan faktor ekonomi. Sehingga perluasan wilayah pun dilakukan oleh Mongol. Dan sampai akhir masa Jenghis Khan (1162-1227) wilayah kekuasaan Mongol meliputi; Tiongkok, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia.

Sebelum Jenghis Khan meninggal, dia membagi wilayah kekuasaannya kepada 4 orang putranya. Pertama, Juchi anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat dan stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia Selatan, di dalamnya terdapat Khawarizm. Kedua, Chagatai ditugasi untuk menguasai daerah Illi, Ergana, Ray, Hamazan dan Azerbeijan. Ketiga, Ogotai mempunyai wilayah di Pamirs dan Tien Syan. Keempat, Tuli (Toluy) anak terakhir Jenghis Khan ini mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri.

Hulagu Khan (1217 – 8 February 1265) anak dari Tuli, merupakan orang kedua Mongol yang memimpin pasukan berkekuatan besar untuk membasmi kelompok Pembunuh (Hasyasyin) dan menyerang kekhalifahan Abbasiyah. Pada 10 Pebruari 1258, anak buah Hulagu membumihanguskan Baghdad sehingga rata dengan tanah. Sehingga masa keemasan dan kejayaan Islam (Abbasiyah) hancur dalam kurun waktu hanya 5 tahun.

Namun, akhirnya Ahmad Teguder (1282-1284) dan Mahmud Ghazan (1295-1304), dan raja-raja selanjutnya adalah pemeluk agama Islam. Dengan masuk Islamnya Mahmud Ghazan —sebelumnya beragama Budha— Islam meraih kemenangan yang sangat besar terhadap agama Syamanisme. Sejak itu pula orang-orang Persia mendapatkan ke-merdekaannya kembali.

Daftar Pustaka

Amin, Muhammad Masyhur. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, cet.IX, 2001.
Harun, Maidir & Firdaus. Sejarah Peradaban Islam. Padang: IAIN-IB Press, jld.2, 2002.
Hasan, Ibrahim Hasan. Sejarah dan Kebudayaan Islam. terj. Djahdan Hamami, Surabaya: Kota Kembang, 1989.
Hitti, Philip K. History of The Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997.
Nata, Abudin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet. VIII, 2003.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet.VII, 1998.
http://www.Wikipedia Indonesia.com

[1]Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), cet. VIII, h. 46.

[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), cet.VII, h. 111.

[3]Lihat Philip K. Hitti, History of The Arabs (terj.), (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 616.

[4]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2001), cet.IX, jld.3, h. 241.

[5]Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004), h. 168.

Sedangkan menurut Ali Mufrodi, bangsa ini adalah masyarakat hutan yang mendiami Siberia dan Mongol Luar di sekitar Danau Baikal. Sebenarnya mereka bukanlah suku nomad yang berpindah-pindah dari satu stepa ke stepa yang lain, walaupun mereka menaklukkan banyak stepa dengan ketangkasannya menunggang kuda (Islam di Kawasan Kebudayaan Arab [Jakarta: Logos, 1997], h. 127).

[6]Badri Yatim, op.cit., h. 111-112.

[7]Ilkhan/Il-Khan (bahasa Turki) adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu Khan yang berarti il berarti “suku”, khan berarti “raja”. Bandingkan dengan Philip K. Hitty, op.cit., h. 621. Lihat Badri Yatim, op.cit., h. 115. Lihat juga Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, op.cit., h. 241.

[8]Badri Yatim, op.cit., h. 111. Bandingkan juga dengan Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, op.cit., h. 241.

[9]Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN-IB Press, 2002), jld.2, h.105.

[10]Badri Yatim, op.cit., h. 112. Sedangkan menurut Muhammad Masyhur Amin dalam Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004), h. 168, bahwa Yasughi Bahadur ini sebagai kepala suku yang tunduk kepada kepala yang lebih tinggi, yaitu Utaq Khan.

Sedangkan menurut Maidir Harun dan Firdaus, baru pada masa Jenghis Khan mereka dapat hidup teratur dan menetap. Jenghis Khan dapat menyatukan orang-orang Mongol pada tahun itu, sehingga tahun tersebut dinamakan “tahun kesatuan”. Sejak itu Temujin resmi menjadi penguasa Mongol yang bergelar Jenghis Khan dan menjadikan kota Qoraqorun sebagai ibu kota pemerintahannya. (Maidir Harun dan Firdaus, op.cit, h. 105).

[11] Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, dll, nama asalnya Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen.

Jenghis Khan dilahirkan dengan nama Temüjin sekitar tahun 1162 dan 1163, anak sulung Yesügei, ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama ketua musuh yang ditewaskan ayahnya.

Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.

Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda. Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin.

Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri. Dia adalah khan Mongol dan ketua militer yang menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia. Penggantinya kelak yang melakukan perluasan Mongolia menjadi kekaisaran terluas dalam sejarah manusia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan, pemerintah Tiongkok bagi Dinasti Yuan di China. (didownload dari http://www.wikipedia Indonesia.com yang diupload pada 15:38, 26 Oktober 2007).

[12]Gelar ini diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, pada usia 44 tahun. (Ali Mufrodi, op.cit., h. 127). Majelis ini disebut baru Majelis Huraltai, yaitu majelis besar suku-suku bangsa Mongol yang memberi gelar pada Temujin sebagai Jenghis Khan. (Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 169).

[13]Maidir Harun dan Firdaus, op.cit, h. 106-107.

[14]Lihat Ali Mufrodi, op.cit., h. 127. Hasan Ibrahim Hasan (Sejarah Kebudayaan Islam [terj.], [Surabaya: Kota Kembang, 1989] hal. 260) juga memaparkan bahwa dalam Alyasak disebutkan tak seorang pun makan sesuatu sendirian, sementara yang lain melihatnya, dalam keadaan seperti ini dia harus menyuruh yang lain untuk membagi makanan dengannya. Tak seorang pun boleh memiliki makanan lebih banyak dari orang lain. Sehingga ketika orang lain melintas di depan orang yang sedang makan, dia berhak untuk makan bersama mereka walaupun tanpa harus ijin terlebih dahulu.

[15]Ali Mufrodi, op.cit., h. 128.

[16]Maidir Harun dan Firdaus, op.cit, h. 107-108.

[17]Mengenai faktor politik ini, bandingkan juga dengan Ensiklopedi Islam, op.cit., h. 242.

Sedangkan menurut Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 171, bahwa faktor politik yang menyebabkan bangsa Mongol melakukan penyerangan ke wilayah Islam adalah pertama, karena Sultan Alauddin Muhammad Khawarizmi Syah memasukkan daerah suku Qarahatun ke dalam kekuasaannya pada tahun 1210 M., sehingga wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah kerajaan Jenghis Khan. Kedua, pembataian pedagang Mongol disebabkan karena tiga orang Islam saudagar besar bersama rombongan-nya dibunuh dan dirampas barang dagangannya oleh orang-orang Mongol di Ibu Kota Qoraqarun. Oleh sebab itu, amir Ghayun Khan diperintahkan oleh Sultan Alauddin agar membunuh 150 orang pedagang Mongol yang ada di Utrar.

[18]Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 169.

[19]Maidir Harun dan Firdaus, op.cit, h. 109-109. Bandingkan juga dengan Badri Yatim, op.cit., h. 113.

[20]Hasan Ibrahim Hasan op.cit., h. 262.

[21]Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 169.

[22]Ali Mufrodi, op.cit., h. 129.

[23]Badri Yatim, op.cit., h. 113.

[24]Ali Mufrodi, op.cit., h. 129.

[25]Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 181.

[26]Maidir Harun dan Firdaus, op.cit, h. 111.

[27]Pemilihan ini dilakukan oleh Majelis Huraltai dua tahun setelah Jenghis Khan wafat. Ogotai bergelar Khakan Ogotai (1229-1241). (Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 169.)

[28]Ali Mufrodi, op.cit., h. 130.

[29]Sedangkan menurut Badri Yatim, op.cit., h. 112, bahwa Peking berhasil diduduki oleh Jenghis Khan pada tahun 1215 M.

[30]Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 169.

[31]Ali Mufrodi, op.cit., h. 130. Sedangkan Badri Yatim menjelaskan bahwa Tuli menguasai daerah Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah terpecah belah dan kekuatannya sudah lemah. Tuli dengan mudah dapat menguasai Irak. Ia meninggal pada tahun 654 H./1256 M., dan digantikan oleh putranya, Hulagu Khan (Badri Yatim, op.cit., h. 114, bandingkan juga dengan Maidir Harun dan Firdaus, op.cit., h. 112).

[32]Hulagu Khan (juga dikenal dengan sebutan Hülegü, Hulegu and Halaku) (1217 – 8 February 1265) adalah Khan pertama dari dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia. Hulagu adalah anak dari Toluy (Tuli) dan Sorghaghtani Beki seorang wanita Nasrani. (didownload dari http://www.wikipedia Indonesia.com yang diupload pada 16:10, 19 Agustus 2007).

[33]Lihat Philip K. Hitti, op.cit., h. 619.

[34]Menurut Philip K. Hitti, op.cit., h. 619, dijelaskan bahwa Ibn al-‘Alqami mendatangi Hulagu Khan bersama seorang Gereja Nestor untuk meminta tenggang waktu. Hal ini beralasan karena Hulagu mempunyai seorang istri Kristen, yang bernama Dokuz Khatun. Dialah yang mendorong Hulagu untuk melakukan penyerangan ke negeri Islam. Istri Hulagu ini diperalat oleh Bohemond dan Kaisar Heitom agar ia memberi spirit dan dorongan kepada suaminya agar melakukan serangan ke Syam. Lihat juga Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 179.

[35]Badri Yatim, op.cit., h. 114-115. Bandingkan dengan Philip K. Hitty, op.cit., h. 619, Ali Mufrodi, op.cit., h. 131.

[36]Kitbugha (seorang Nasrani) adalah panglima perang yang ditunjuk oleh istri Hulagu Khan, yaitu Dokuz Khatun yang beragama Nasrani. Lihat Muhammad Masyhur Amin, op.cit., h. 179.

[37]Badri Yatim, op.cit., h. 115.

[38]Ali Mufrodi, op.cit., h. 131-132.

[39]Badri Yatim, op.cit., h. 115-117.

[40]Lihat Ali Mufrodi, op.cit., h. 113.

[41] Badri Yatim, op.cit., h. 117.

Dikopas dari “http://hasanrizal.wordpress.com/2009/10/20/kehancuran-baghdad-serangan-mongol-jenghis-khan-dan-hulagu-khan/”

Categories: Uncategorized Tags: , , , ,

Atomisme

November 9, 2011 Leave a comment

 

Atomisme adalah teori filosofis dan ilmiah bahwa kenyataan dibentuk oleh bagian-bagian elementer yang tak dapat dibagi yang disebut atom. Dengan adanya eksistensi atom maka akan terdapat juga lawan atom, atau “anti-atom” yaitu kekosongan. Interpretasi atom Democritus: apakah “tidak dapat dibagi” itu?

Pendahuluan

 

Apakah yang membentuk suatu benda?

 

Ini merupakan pertanyaan fundamental yang dilontarkan oleh filsafat alam. Sebuah benda terdiri atas bagian-bagian tertentu, dan seterusnya oleh bagian-bagian yang lebih kecil lagi, dan kecil lagi. Apakah ada suatu saat di mana bagian tersebut sudah bukan bagian dari sesuatu lagi?

 

Democritus dari Abdera (460 – 370 SM) menamakannya atom, yang berasal dari “a-tomos” yang dalam bahasa Yunani berarti “tidak bisa dipotong”. Atom, menurut Democritus, adalah bagaikan blok-blok kecil yang sangat kecil hingga tak terlihat lagi, yang tidak bisa dibagi lagi dan bersifat abadi. Maka atomisme adalah teori filosofis dan ilmiah bahwa kenyataan dibentuk oleh bagian-bagian elementer yang tak dapat dibagi yang disebut atom.

 

Democritus beranggapan bahwa ada tak terhingga jenis atom di alam semesta, di mana masing-masing atom mempunyai sifat tersendiri. “Atom kayu”, sebagai contoh, akan berperilaku berbeda dengan “atom air”. Sifat-sifat dari atom ini yang akan terasa oleh indera kita, sebagai warna, berat dan lain-lain. Perkembangan sains telah mengidentifikasi sejumlah jenis atom, misal ferrum (besi) dan aurum (emas) dan kombinasi atom-atom, misal air dari atom hidrogen dan atom oksigen.

 

Meskipun yang telah dinamakan “atom” ternyata masih dapat dibagi lagi (proton, elektron dan netron) – dan lalu lebih kecil lagi (quark), pemikiran Democritus berpusat bukan pada ‘apakah bagian elementer itu’, melainkan pada ‘apakah ada bagian elementer itu?’. Democritus tidak menggunakan perangkat apa-apa selain pemikirannya, tetapi sains pada abad ke-19 menunjukkan bahwa sejauh ini atomisme dapat dibenarkan. Atomisme adalah filsafat alam yang paling berpengaruh setelah jaman Socrates.

Atom dan Kekosongan

 

Filsafat alam mengamati banyaknya keadaan yang berlawanan, misal panas dan dingin, basah dan kering. Pada setiap pasangan yang berlawanan ini yang pertama adalah apa yang kedua bukan. Dengan pemikiran ini maka jika terdapat atom, terdapat pula pasangannya, dalam hal ini kekosongan (void). Kekosongan adalah lawan dari atom, atau dapat disebut juga sebagai “anti-atom”.

 

Kalau tidak terdapat kekosongan, maka seluruh alam akan penuh sesak terisi oleh atom yang berdampingan satu sama lain. Tidak akan ada titik pada permukaan satu atom yang tidak menyentuh permukaan atom lain. Bayangkan konsekuensinya: karena bagian atom – kalau kita ikuti teori (a) pada “Atom Tidak Dapat Dibagi” – tidak dapat bergerak satu sama lain, lalu atom berdesakan satu sama lain maka tidak akan pergerakan relatif suatu atom terhadap yang lain. Atau dapat dibayangkan bahwa atom yang bersebelahan adalah suatu atom sendiri, dan seluruh alam semesta hanyalah sebuah “super-atom”! (aliran ini dikemukakan Melissus) Padahal kita ketahui banyaknya proses dan perubahan yang terjadi dalam alam semesta, baik dari baju yang digantung mengering (pertanda atom air meninggalkan baju) atau pertumbuhan anak menjadi dewasa. Jadi, kalau atom ada, kekosongan itu pasti ada.

 

Pemikiran ini diawali oleh perintis atomisme bahkan sebelum Democritus, yaitu Leucippus. Leucippus dan Democritus merasakan bahwa eksistensi atom dan kekosongan dapat menjelaskan alam secara rasional. Karena atom adalah abadi dan selalu ada keseimbangan atom-kekosongan, maka kekosongan juga tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan.

 

Para atomis ini juga beranggapan bahwa pada suatu benda makroskopis (balok kayu, misalnya), kekosongan tidak hanya berada pada batas permukaan benda itu saja, tetapi juga berada di dalam benda. Ini dengan praktis menjelaskan mengapa ada benda yang berat dan ringan – benda dengan kadar atom lebih tinggi dan kekosongan lebih rendah akan menjadi lebih berat. Kita dapat memegang secangkir kopi panas dan merasakan hangat karena ada sedikit atom yang membawa panas yang dapat menembus cangkir dan mengenai tangan kita. Cahaya dapat menembus kaca yang padat, bahkan suara pun dapat menembus tembok. Ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau benda itu “berpori” atau memiliki suatu derajat kekosongan.

Atom Tidak Dapat Dibagi

 

Dari sifat-sifat atom yang dimodelkan, tentunya yang paling penting adalah bahwa atom tidak dapat dibagi. Namun apa sebenarnya yang dimaksud Democritus dengan “tidak dapat dibagi”? Artinya adalah salah satu dari dua interpretasi:

a) tidak mungkin secara fisika untuk membagi suatu atom.

b) tidak mungkin secara logis dan konseptual untuk membagi suatu atom.

 

Perbedaan dari kedua pandangan ini adalah pada (a), sebuah atom masih mungkin mempunyai bagian yang lebih kecil. Tetapi, bagian itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara fisis. Secara matematis atom masih dapat dibagi, seperti kata Burnet, “Kita harus mengamati bahwa atom tidak secara matematis tidak dapat dibagi, karena atom mempunyai magnituda; namun atom secara fisika tidak dapat dibagi, karena atom tidak mengandung tempat kosong”. Kenyataan bahwa atom-atom berbeda-beda dalam berat juga memperkuat argumen ini.

 

Sedangkan pada (b), tidak ada artinya untuk berbicara tentang “bagian” dari suatu atom, karena hal itu tidak ada sama sekali. Kalau seseorang bermaksud membagi atom menjadi bagian-bagiannya, dia akan mendapatkan bahwa ketidakmampuannya adalah bukan teknologis melainkan konseptual. Kata Guthrie, “Democritus berpendapat bahwa atom, bukan hanya sangat kecil tetapi partikel yang terkecil, bukan hanya terlalu kecil untuk dibagi secara fisis tetapi juga tidak bisa dibagi secara logis”.
Atom dan Sifatnya

 

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Democritus berkata bahwa atom ada berbagai jenis yang akan menunjukkan sifat dari suatu benda. Kalau atom itu hanya satu jenis, dengan berat dan ukuran yang sama, maka alam akan seragam di semua tempat, tidak ada yang membedakan satu sama lain. Tetapi kita tahu ada benda yang keras, ada yang ringan, ada yang berwarna merah, ada yang rasanya manis.

 

Para atomis awal berpikir bahwa perbedaan berat dan ukuran adalah yang menyebabkan keanekaragaman tersebut. Mereka mengandaikan rasa manis adalah dari atom yang berbetuk bulat, rasa asam dari atom yang kasar dan bersudut banyak. Rasa asin berasal dari atom berukuran besar yang “terputar-putar” dan atom pahit berasal dari atom kecil yang bengkok. Dan atom yang terasa berminyak adalah atom yang halus, kecil dan bundar (Robinson, An Introduction to Early Greek Philosophy (1968), hal. 200)

 

Perkembangan atomisme selanjutnya adalah bahwa setiap atom adalah seragam, homogen, tidak berasa, tidak berwarna dan tentunya, tidak dapat dibagi. Atom memiliki berat dan ukuran, ini yang disebut sebagai sifat primer. Dan atom dapat bergerak. Warna, bau, rasa dan lain-lain disebut sebagai sifat sekunder, yang tidak dimiliki oleh atom itu sendiri melainkan adalah penurunan dari sifat primernya.
Kesimpulan

 

Atomisme adalah suatu aliran filsafat alam yang tidak banyak diperdebatkan; bukan karena kurang kontraversial, melainkan karena ahli filsafat lain pada umumnya menyetujui pemikiran Democritus dan Leucippus. Apa yang dinamakan atom oleh Democritus akan terus berkembang sejalan dengan penemuan-penemuan baru. Atomisme sangat berguna dalam dalam memecahkan apakah alam sebenarnya, antara lain melalui ilmu pengetahuan (sains). Peran lain yang diberikan contohnya keseimbangan atom dan kekosongan, yang kemudian disebut hukum kekekalan massa.

 

Penulis cenderung berpaham dengan atomisme karena dalam alam semua sifat bisa kita telaah dari komponen-komponen terkecilnya. Sains di abad 18 dan 19 telah memperkuat argumen atomisme, dan kini atomisme dipergunakan secara luas dalam ilmu pengetahuan, antara lain dalam simulasi dinamika molekul, seorang ilmuwan menghitung suhu benda dilihat dari atom-atom. Dapat diperdebatkan bahwa hasil sains sepaham dengan atomisme karena metode ilmiah yang digunakan memang adalah atomisme. Kuantitas – kuantitas fisika yang didapatkan secara matematis seringkali didapatkan sebagai integral komponen-komponen kecilnya, yang dengan sendirinya adalah atomisme.

Referensi

 

1. Hamlyn, D.W., The Penguin History of Western Philosophy, Penguin Books, England, 1987
2. Cohen, Marc, Atomism, http://faculty.washington.edu/smcohen/320/atomism.htm
3. Garrett, Jan, The Atomism of Democritus, http://www.wku.edu/~garreje/democ.htm
4. Gaardner, Jostein, Sophie’s World, Berkley Books, New York, 1996.
5. Atomism, http://es.rice.edu/ES/humsoc/Galileo/Things/atomism.html
6. Atomism, http://www.cthonia.com/lyceum/philos_isms/atomism.html

Dikopas dari:

Aree Witoelar
http://www.witoelar.com/aree

Categories: Sosial Politik Budaya Tags:

Partai

November 5, 2011 Leave a comment

Majalah Tempo, 3 Okt 2011. Agus R. Sarjono, Sastrawan, Pemimpin Redaksi Jurnal Kritik

Gambar: begotsantoso.com

Partai yang selalu besar jumlah anggotanya dalam semua cerita silat (cersil) Cina, khususnya peranakan Indonesia, adalah Partai Pengemis alias Kay Pang. Partai terbesar ini biasanya ditandai oleh pakaian mereka yang tambalan, dan “Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing”, ilmu silat tertinggi khusus buat ketua partainya. Kwee Cheng, tokoh utama Pendekar Rajawali Sakti karya Chin Yung, adalah murid ketua Partai Pengemis.

Dalam KBBI, kata partai memiliki banyak pengertian, yakni:

1 perkumpulan (segolongan orang) yang seasas, sehaluan, dan setujuan (terutama di bidang politik); 2 penggolongan pemain dalam bulu tangkis dsb: – ganda; — tunggal; 3 kumpulan barang dagangan yg tidak tentu banyaknya: kita boleh membeli – besar atau – kecil.

Kay Pang termasuk partai dalam pengertian pertama, meski pada dasarnya bukan partai politik.

Selepas reformasi, Indonesia melahirkan banyak partai. Bahkan produk terbesar reformasi adalah partai politik. Meskipun partai politik itu bentuk dan ukurannya beragam, lambang dan bujukannya bermacam-macam, ternyata tiga presiden Indonesia yang berbeda jenisnya memiliki sikap yang sama. Baik Bung Karno, Pak Harto, maupun Gus Dur memandang partai sebagai sesuatu yang negatif. Anehnya, rakyat pun pada umumnya memiliki pandangan negatif dan ketidaksukaan yang sama terhadap partai, terlepas dari apakah mereka penyuka ketiga mantan presiden tersebut atau bukan.

Dalam urusan ini, partai di Indonesia boleh berlega hati karena bukan hanya mereka yang dipandang negatif dan tak disukai rakyat. Dalam komik Crayon Shin Chan karya pengarang terkonyol Jepang, Yoshito Usui (almarhum), ada kisah monster paruh baya Kojiwa mengamuk di Tokyo, menghancurkan gedung parlemen. Hiroshi, ayah Shin Chan, membatin: “Apa cuma aku yang merasa senang melihat itu!?” Semua tahu bahwa komik superpopuler ini adalah komik konyol. Tapi rasa senang dihancurkannya gedung parlemen tampaknya mewakili perasaan umum masyarakat Jepang terhadap partai.

Untuk kasus Indonesia, kata partai tidak selalu sesuai dengan KBBI, yakni: “seasas, sehaluan, setujuan”. Suatu partai politik bisa saja berisi tokoh-tokoh yang tidak seasas sehaluan, tapi setujuan. Bisa juga seasas, sehaluan, tapi tidak setujuan. Kadang-kadang, di suatu daerah partai yang tidak seasas dan sehaluan tiba-tiba setujuan dalam mengegolkan calon tertentu. Di daerah lain, yang seasas serta sehaluan berkelahi karena tidak setujuan. Partai yang berseteru di daerah A bisa bersetuju di daerah Z, yang bermesraan di daerah X bisa saling menerjang di daerah Y.

Apakah dengan demikian makna partai dalam KBBI perlu diubah menjadi: 1. Perkumpulan segolongan orang yang kadang seasas kadang tidak, kadang sehaluan kadang tidak, dan kadang setujuan kadang tidak yang berhasrat untuk dipilih oleh sebanyak-banyaknya rakyat saat pemilu agar dapat ambil bagian dalam pengelolaan kekuasaan negara? Tentu tidak semudah itu. Kasihan para pendekar dari partai persilatan yang umumnya selalu menolak tawaran kaisar untuk menduduki jabatan di pemerintahan, seperti Kwee Cheng (Sin Tiauw Enghiong) atau Thio Boe Kie (To Liong To). Bahkan Suma Han (Pendekar Super Sakti) rela ditinggalkan istri hingga rambutnya memutih karena tidak sudi bergabung ke istana.

Pengertian “partai” yang kedua, berkenaan dengan olahraga. Dalam bulu tangkis, partai ganda campuran, misalnya, adalah pemain ganda yang terdiri atas satu perempuan dan satu lelaki. Pengertian kedua ini tidak digunakan dalam urusan partai politik meski di partai itu, misalnya, ada tokoh ganda: kadang ekstrem kanan kadang ekstrem tengah, sekaligus.

Pengertian “partai” yang ketiga, berkenaan dengan jumlah barang dagangan. Jika ada iklan berbunyi, “Menerima pesanan sarung, baik partai besar maupun partai kecil”, yang dimaksudkan adalah Anda dapat membeli sarung, sedikit ataupun banyak. Ketaksaan (ambiguitas) bahasa Indonesia yang sakti terlihat dalam kalimat ini: “Kami menerima pesanan kaus dan spanduk partai, baik partai besar maupun partai kecil.” Maknanya, pengusaha tersebut menerima pesanan kaus dan spanduk partai, baik dalam jumlah banyak maupun sedikit. Namun kalimat itu dapat juga dimaknai bahwa pengusaha tersebut menerima pesanan kaus dan spanduk partai, baik dari partai besar maupun partai gurem.

Dengan begitu, dalam berurusan dengan kata “partai”, kita harus ekstrahati-hati, apakah kata partai tersebut digunakan dalam konteks perdagangan, olahraga, atau politik.

Maka, jika ada spanduk bertulisan “Dijual cepat! Partai besar maupun kecil!”, sebaiknya diteliti dulu barang dagangan apa yang dipasangi spanduk tadi, sehingga kita tahu duduk perkaranya dan tidak langsung datang menyerahkan segepok uang. Salah-salah, kita bisa ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena diduga hendak membeli partai tertentu sehingga harus buru-buru mengekspor diri (dan bukan barang) ke luar negeri untuk menghindari penyidikan.

Termokimia

February 27, 2011 Leave a comment

Termokimia adalah salah satu kajian dari ilmu kimia yang secara khusus mempelajari kalor atau panas yang menyertai suatu reaksi kimia. Pada suatu reaksi kimia, kalor dapat diserap atau dilepaskan. Termokimia berbeda dengan termodinamika kimia. Bila kita berbicara termokimia, maka wilayah kajiannya hanya ada pada kalor, meskipun nantinya Anda menemukan bahwa dalam perhitungan termokimia, kita akan memasukkan kerja ke dalamnya. Baik kerja maupun kalor merupakan bentuk-bentuk energi, atau dapat dikatakan konseptualisasi energi, mengingat bukan  perkara gampang mendefinisikan energi. Sedangkan termodinamika sendiri merupakan ilmu yang mempelajari energi dan transformasinya. Termodinamika kimia dapat diartikan sebagai cabang dari ilmu kimia yang mempelajari hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain dari energi, dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia serta dalam perubahan keadaan.  Penerapan Hukum Pertama Termodinamika pada sistem-sistem reaksi kimia merupakan landasan dari termokimia. Maka jelas sekali bahwa termokimia memiliki kaitan yang erat dengan termodinamika. Alangkah baiknya sebelum lebih jauh mempelajari termokimia, kita mengenal dulu sejumlah istilah dan konsep dalam termodinamika yang diperlukan untuk mendukung pemahaman kita dalam mempelajari termokimia.

Energi

Energi merupakan sesuatu yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia dan seluruh makhluk di alam semesta. Pada mulanya manusia mendapatkan energi hanya dalam bentuk makanan, yang merupakan kebutuhan primer manusia. Namun dalam perkembangan lebih lanjut manusia juga membutuhkan energi lain selain makanan. Dalam perkembangannya pula, manusia menemukan kenyataan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan, namun hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Pernyataan ini merupakan perwujudan dari Azas Kekekalan Energi yang juga menjadi Hukum Pertama Termodinamika.

Mendefinisikan energi secara tepat dan ajeg cukuplah sulit, karena setiap transformasi sistem materi pasti melibatkan energi tertentu. Pada dasarnya sistem materi mengandung energi, dan setiap perubahan sistem materi pasti disertai perubahan energi. Maka dapat dikatakan energi adalah sesuatu yang menyertai perubahan sistem materi. Namun kita akan segera menemukan bahwa dalam buku-buku fisika dasar, energi diartikan sebagai kemampuan melakukan kerja.  Ada tujuh bentuk energi, yaitu enegi kinetik, potensial, termal, radiasi elektromagnetik (foton), listrik, kimia, dan nuklir.

Energi kinetik adalah energi yang timbul karena sistem (materi) yang bergerak. Besarnya energi kinetik bergantung pada massa dan kecepatannya. Energi kinetik dapat dirumuskan sebagai berikut:

Energi potensial adalah energi yang dimiliki oleh suatu sistem karena gaya badan yang didesakkan pada massanya oleh medan gravitasi atau elektromagnetik relatif terhadap permukaan acuan. Energi potensial untuk medan gravtasi dapat dirumuskan sebagai

P = mgh

Dimana h adalah jarak dari permukaan referensi, sedangkan g adalah percepatan gravitasi. Gerakan partikel dalam suatu sistem (materi) yang berwujud gas, cair, dan padat menimbulkan energi termal. Partikel-partikel dapat melakukan gerakan tranlasional, rotasional, dan vibrasional. Gerakan partikel tersebut menimbulkan energi kinetik, Energi tersebut yang menyebabkan suatu sistem materi menimbulkan panas yang disebut energi termal.

Energi radiasi elektromagnetik adalah energi yang dimiliki oleh foton dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Suatu gelombang memiliki frekuensi (v) dan panjang gelombang (λ). Berdasarkan rumusan Planck, energi foton dapat dirumuskan sebagai,

E = hv

  

 Energi listrik adalah energi yang diakibatkan oleh gerakan partikel bermuatan dalam suatu media (konduktor). Gerakan itu terjadi karena adanya beda potensial antara kedua ujung konduktor. Besarnya energi listrik bergantung pada beda potensial dan jumlah muatan yang mengalir,

w = qE

dengan w  adalah energi litrik (joule,J), q adalah muatan yang mengalir (coulomb, C), dan E adalah beda potensial (volt, V). Energi kimia adalah energi yang dikandung suatu senyawa dalam bentuk energi ikatan antara atom-atomnya. Energi nuklir adalah energi yang dihasilkan dari proses peluruhan inti zat radioaktif.

Sistem, Lingkungan, Dinding Sistem, dan Alam Semesta Termodinamika

Tak lengkap rasanya bila kita berbicara termokimia tanpa memperhatikan istilah yang sangat populer dalam termodinamika, yaitu sistem dan lingkungan. Sistem adalah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian manusia untuk dipelajari berbagai hal darinya, sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu di luar sistem. Dinding sistem adalah hal yang menjadi pembatas antara sistem dengan lingkungannya. Mengapa disebut ”hal” untuk dinding sistem? Karena dinding sistem tidak hanya bersifat fisik saja, namun bisa bersifat konseptual. Gabungan antara sistem dan lingkungan, termasuk juga dinding sistem, membentuk apa yang disebut alam semesta termodinamika. Dalam termokimia sistem adalah reaksi kimia itu sendiri ditambah dengan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk dipelajari sesuai tujuan dari si peneliti. Taruhlah Anda ingin mempelajari hanya air yang berada di dalam botol softdrink, maka sistem adalah air, dinding sistem adalah dinding botol softdrink  dan permukaan air itu sendiri di dalam botol sendiri atau udara yang bersentuhan dengan permukaan air misalnya, lainnya adalah lingkungan.

Berdasarkan interaksi sistem dengan lingkungnnya berkaitan dengan pertukaran energi dan materi, sistem dibagi 3 yaitu sistem tersekat, sistem tertutup, dan sistem terbuka. Sistem dikatakan tersekat  bila tidak dapat terjadi pertukaran energi dan materi antara sistem dengan lingkungannya. Misalnya termos ideal penyimpan es, dengan didnding berupa dua kaca berlapis perak di bagian dalam dan luar, dan diantara keduanya adalah ruang vakum yang berperan sebagai penyekat. Konstruksi dinding tersebut akan dapat mencegah rambatan energi dan aliran materi dari dan ke dalam sistem.

Sistem dikatakan tertutup bila hanya dapat terjadi petukaran energi antara sistem dengan lingkungannya. Sebagai contoh adalah suatu silinder baja penyimpan gas, molekul gas tak dapat menembus baja, sedangkan energi dapat.

Sistem dikatakan terbuka bila dapat terjadi pertukaran energi dan materi antara sistem dengan lingkungannya. Misalnya air di dalam gelas. Air dapat menguap ke udara, dapat pula menjadi dingin atau panas, dimana hal tersebut menunjukkan bahwa energi dan amteri dapat kelura masuk sistem.

Pembagian tersebut berimbas pula pada munculnya istilah pada dinding sistem sesuai dengan karakteristik sistem, yaitu dinding adiatermal dan diatermal. Dinding adiatermal adalah dinding sistem yang kedap energi dan materi, sedangkan dinding diatermal adalah dinding sistem yang hanya kedap energi.

Fungsi Keadaan

Keadaan termodinamika adalah keadaan makroskopik dari suatu sistem dimana sifat-sifatnya hanya ditentukan oleh seperangkat instrumentasi tertentu yang menjaga sifat-sifat tersebut berada pada nilai atau kondisi tertentu yang diinginkan dan tidak bergantung pada waktu. Sedangkan, fungsi keadaan merupakan sifat suatu sistem dimana berdasarkan sifat tersebut sistem-sistem yang memenuhi fungsi keadaan adalah sistem yang untuk mencapai kedaan tertentu hanya tergantung pada kedaan awal dan akhirnya saja, tidak tergantung pada jalan atau proses untuk mencapai kedaan tersebut. Di dalam termodinamika, energi dalam (U), entalpi (H), energi bebas Gibbs (G), dan energi bebas Helmholtz (A) merupakan fungsi keadaan. Salah satu sifat terpenting dari fungsi keadaan adalah diferensialnya bersifat eksak (diferensial total). Beberapa sifat dari diferensial total adalah sebagai berikut: 

3. Berlaku formula Euler yaitu jika dz = M(x,y) dx + N(x,y) dy maka,

                 

Pembahasan fungsi kedaan menjadi penting karena sifat ini akan beresuaian natinya dengan apliaksi Hukum Hess dalam menghitung perubahan entalpi dari senyawa-senyawa.

Kalor

Dalam diskusi tentang kalor, kita akan segera menemui bahwa penggunaan sehari-hari untuk istilah tersebut mungkin akan menyebabkan kebingungan, karena kita akan menggunakan kalor dalam arti yang sangat terbatas jika kita menerapkan hukum yang mengatur perubahan energi. Kalor (q) biasanya didefinisikan sebagai bagian dari aliran energi total yang mengalir melintasi dinding sistem yang disebabkan oleh perbedaan temperatur antara sistem dengan lingkungannya. Di dalam sejumlah penulisan buku baik untuk teknik dan sains, ada perbedaan dalam penulisan tanda positif dan negatif untuk kalor yang keluar dan masuk sistem. Pada pembahasan ini, kalor yang masuk ditandati positif (q) dan kalor yang keluar sistem ditandai negatif (−q). Kalor bukan merupakan suatu fungsi kedaan sehingga diferensialnya tidak bersifat eksak atau sempurna yang disebut dengan Diferensial Pfaff  yang dilambangkan dengan dq.

Kerja

Kerja adalah suatu istilah yang penggunanaannya telah dilakukan secara khusus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mempelajarai termokimia, istilah kerja digunakan untuk menyatakan bentuk energi selain kalor. Oleh karena itu dikenal istilah kerja mekanik, kerja volum (d= –pdV ), kerja listrik (dw = EdQ), kerja magnetik, kerja sistem permukaan (dw = γdA) dan lain sebagainya. Menurut mekanika, kerja adalah suatu besaran skalar yang merupakan perkalian skalar  antara vektor gaya dengan vektor lintasan, yaitu hasil perkalian antara besar komponen gaya yang searah lintasan dengan besar lintasan. Secara grafis konfigurasi gaya dan lintasan adalah seperti pada gambar berikut,

Jika w adalah kerja, F adalah gaya dan dl unsur lintasan, maka diferensial kerja adalah

Sehingga besar w  adalah integral dari dw sepanjang lintasan kerja, yaitu suatu integral garis

Dari bahasan bentuk ungkapan kerja pada berbagai macam sistem, secara umum dapat dinyatakan bahwa ungkapan bagi kerja berbentuk

dw = YdX

dengan Y  suatu besaran intensif  dan X  suatu besaran ekstensif.

Variabel

Besaran (variabel) ekstensif adalah variabel yang harganya tergantung pada jumlah zat dalam sistem, misalnya volume sistem gas, muatan listrik sistem sel elektrokimia, dan kandungan energi pada suatu sistem. Variabel intensif adalah variabel yang tak tergantung pada jumlah zat, misalnya tekanan dan massa jenis. Bila kita bicara variabel, maka yang dibicarakan adalah variabel termodinamika yaitu besaran-besaran makroskopik yang secara fenomenologi dapat diukur, dan harganya terkait dengan atau menentukan keadaan sistem. Secara matematik, variabel dibagi menjadi dua golongan , yaitu variabel bebas dan variabel tak bebas. Suatu variabel dikatakan bebas bila harganya dapat secara bebas ditentukan, sedangkan variabel tak bebas harganya terkait dengan satu atau lebih variabel bebas melalui suatu persamaan. Persamaan yang secara khusus mengikat beberapa variabel sistem disebut persamaan keadaan sistem. Jumlah variabel bebas dalam sistem disebut derajat kebebasan.

Categories: Kimia Fisika Tags: ,

Fisikawan Jenius itu Ternyata Dulunya Seorang Pemalas

October 29, 2010 Leave a comment

Stephen Hawking

Tidak banyak yang mengetahui mengenai masa lalu ilmuwan asal Inggris Stephen Hawking, orang paling cerdas sekolong jagad ini ternyata tergolong siswa pemalas sewaktu mengenyam bangku kuliah.

“Sewaktu saya berkuliah di Oxford University saya termasuk mahasiwa yang malas kuliah. Saya hanya memikirkan diagnosis bahwa saya akan mati muda,” katanya dalam sebuah kuliah umum di Royal Albert Hall, London, seperti yang dikutip Telegraph, Senin (25/10/2010). Read more…