Home > KIMIA > DNA dan Biosensor Elektrokimia

DNA dan Biosensor Elektrokimia

A. DNA

DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara seluler. DNA terdapat pada nukleus, mitokondria dan kloroplas. Perbedaan di antara ketiganya adalah DNA nukleus berbentuk linear dan berasosiasi sangat erat dengan protein histon, sedangkan DNA mitokondria dan kloroplas berbentuk sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein histon. Selain itu, DNA mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas, yaitu hanya mewariskan sifat-sifat yang berasal dari garis ibu. Hal ini sangat berbeda dengan DNA nukleus yang memiliki pola pewarisan sifat dari kedua orang tua. Dilihat dari organismenya, struktur DNA prokariot berbeda dengan struktur DNA eukariot. DNA prokariot tidak memiliki protein histon dan berbentuk sirkular, sedangkan DNA eukariot berbentuk linear dan memiliki protein histon.

DNA merupakan polimer yang mengandung gugus fosfat, gula deoksiribosa, dan basa nitrogen. Sebuah unit monomer DNA yang terdiri dari ketiga komponen tersebut dinamakan nukleotida, sehingga DNA tergolong sebagai polinukleotida. Rantai DNA memiliki lebar 22–24 Å, sementara panjang satu unit nukleotida 3,3 Å. Walaupun unit monomer ini sangatlah kecil, DNA dapat memiliki jutaan nukleotida yang terangkai seperti rantai.

Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus gula dan fosfat yang berselang-seling. Gula pada DNA adalah gula pentosa, yaitu 2-deoksiribosa. Sedangkan RNA gula penyusunnya adalah ribosa. DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur heliks ganda. Pada struktur heliks ganda, orientasi rantai nukleotida pada satu untai berlawanan dengan orientasi nukleotida untai lainnya. Hal ini disebut sebagai antiparalel. Masing-masing untai terdiri dari rangka utama, sebagai struktur utama, dan basa nitrogen, yang berinteraksi dengan untai DNA satunya pada heliks. Kedua untai pada heliks ganda DNA disatukan oleh ikatan hidrogen antara basa-basa yang terdapat pada kedua untai tersebut. Empat basa yang ditemukan pada DNA adalah adenin (dilambangkan A), cytosine ( dilambangkan C), guanin (dilambangkan G), dan timin (dilambangkan T). Adenin berikatan hidrogen dengan timin, sedangkan guanin berikatan dengan sitosin.

Sebuah sel memiliki DNA yang merupakan materi genetik dan bersifat herediter pada seluruh sistem kehidupan. Genom adalah set lengkap materi genetik (DNA) yang dimiliki suatu organisme dan terorganisasi menjadi kromosom. DNA juga dapat diisolasi, baik pada manusia maupun pada tumbuhan. Ada 5 tahap untuk melakukan isolasi DNA, yaitu isolasi jaringan, pelisisan dinding dan membran sel, pengekstraksian dalam larutan, purifikasi, dan presipitasi.

B. Sekuens DNA (DNA Sequence)

Sekuens DNA berkaitan dengan urutan rantai nukleotida dalam DNA. Sekuensing asam nukleat atau pengurutan asam nukleat adalah proses penentuan urutan nukleotida pada suatu fragmen DNA atau RNA. RNA dibentuk dengan transkripsi dari DNA, informasi yang dikandung RNA juga terdapat di dalam DNA cetakannya sehingga sekuensing DNA cetakan tersebut sudah cukup untuk membaca informasi pada RNA. Namun demikian, sekuensing RNA dibutuhkan khususnya pada eukariota, karena molekul RNA eukariota tidak selalu sebanding dengan DNA cetakannya karena pemotongan intron setelah proses transkripsi. Berhubungan dengan fungsi biologinya, sebuah sekuens dapat berupa sense atau anti-sense dan kode atau nonkode, sekuens DNA dapat juga membawa DNA sampah.

C. Teknik Sekuensing DNA

Sekuensing berarti penentuan struktur primer (atau sekuens primer) rantai biopolimer tak bercabang. Sekuensing menghasilkan penggambaran linear simbolik yang disebut sekuens yang meringkas sebagian besar struktur tingkat atom atas molekul yang disekuensing. Sebagai contoh, sekuensing DNA akan menghasilkan sekuens DNA yang digambarkan sebagai untaian abjad lambang nukleotida-nukleotida penyusun DNA, yaitu A (nukleotida berbasa adenin), T (nukleotida berbasa timin), G (nukleotida berbasa guanin), dan C (nukleotida berbasa sitosin).

Prinsip Sekuensing DNA dalam molekul DNA rekombinan yang memperlihatkan hasil positif dalam reaksi hibridisasi dengan fragmen pelacak dapat diduga sebagai molekul yang membawa fragmen sisipan atau bahkan gen yang diinginkan. Namun, hal ini masih memerlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan bahwa fragmen tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan kloning. Analisis antara lain dapat dilakukan atas dasar urutan (sekuens) basa fragmen sisipan. Ada sejumlah metode sekuensing DNA yaitu metode Maxam-Gilbert dan metode Sanger.

Metode sekuensing DNA yang pertama dikenal adalah metode kimia yang dikembangkan oleh A.M. Maxam dan W. Gilbert pada tahun 1977. Metode ini menginginkan fragmen-fragmen DNA yang akan disekuens terlebih dahulu harus dilabeli pada salah satu ujungnya, biasanya menggunakan fosfat radioaktif atau suatu nukleotida pada ujung 3’. Metode Maxam-Gilbert dapat diterapkan baik untuk DNA untai ganda maupun DNA untai tunggal dan melibatkan pemotongan basa spesifik yang dilakukan dalam dua tahap yaitu pemotongan molekul DNA secara parsial dengan menggunakan piperidin dimana masa inkubasi atau konsentrasi piperidin perlu dikontrol agar dihasilkan fragmen-fragmen DNA dalam berbagai ukuran dan pemodifikasian basa dengan menggunakan bahan kimia tertentu.

Seiring dengan dikembangkannya metode terminasi rantai, metode sekuensing Maxam-Gilbert menjadi tidak populer karena kerumitan teknisnya, digunakannya bahan kimia berbahaya, dan kesulitan dalam scale-up. Dewasa ini metode sekuensing Maxam-Gilbert sudah sangat jarang digunakan karena ada metode lain yang jauh lebih praktis, yaitu metode dideoksi yang dikembangkan oleh A. Sanger dan kawan-kawan pada tahun 1977 juga.

Pada metode metode Sanger atau yang disebut terminasi rantai, perpanjangan atau ekstensi rantai DNA dimulai pada situs spesifik pada DNA cetakan dengan menggunakan oligonukleotida pendek yang disebut primer yang komplementer terhadap DNA pada daerah situs tersebut. Primer tersebut diperpanjang menggunakan DNA polimerase, enzim yang mereplikasi DNA. Bersama dengan primer dan DNA polimerase, diikutsertakan pula empat jenis basa deoksinukleotida (satuan pembentuk DNA), juga nukleotida pemutus atau penghenti rantai (terminator rantai) dalam konsentrasi rendah (biasanya dideoksinukleotida). Penggabungan nukleotida pemutus rantai tersebut secara terbatas kepada rantai DNA oleh polimerase DNA menghasilkan fragmen-fragmen DNA yang berhenti bertumbuh hanya pada posisi pada DNA tempat nukleotida tertentu tersebut tergabungkan. Fragmen-fragmen DNA tersebut lalu dipisahkan menurut ukurannya dengan elektroforesis gel poliakrilamida atau polyacrylamide gel electrophoresis (PAGE) agar pembacaan sekuens dapat dilakukan, atau sekarang semakin lazim dengan elektroforesis menggunakan tabung gelas berjari-jari kecil (pipa kapiler) yang diisi dengan polimer kental. Seiring dengan perkembangannya, kini terdapat beberapa macam metode sekuensing terminasi rantai yang berbeda satu sama lain terutama dalam hal pendeteksian fragmen DNA hasil reaksi sekuensing.

Pada metode yang asli, urutan nukleotida DNA tertentu dapat ditentukan dengan membuat secara paralel empat reaksi perpanjangan rantai menggunakan salah satu dari empat jenis basa pemutus rantai pada masing-masing reaksi. Fragmen-fragmen DNA yang kemudian terbentuk dideteksi dengan menandai (labelling) primer yang digunakan dengan fosfor radioaktif sebelum reaksi sekuensing dilangsungkan. Keempat hasil reaksi tersebut kemudian dielektroforesis pada empat lajur yang saling bersebelahan pada gel poliakrilamida.

Hasil pengembangan metode ini menggunakan empat macam primer yang ditandai dengan pewarna berpendar (fluorescent dye). Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu tidak menggunakan bahan radioaktif sehingga lebih aman, lebih cepat, dan keempat hasil reaksi dapat dicampur dan dielektroforesis pada satu lajur pada gel. Metode ini dikenal sebagai metode dye primer sequencing. Cara lain pelabelan primer adalah dengan melabel pemutus rantainya, lazim disebut metode sekuensing dye terminator. Cara ini lebih unggul karena seluruh proses sekuensing dapat dilakukan dalam satu reaksi, dibandingkan dengan empat reaksi terpisah yang diperlukan pada penggunaan primer berlabel. Pada cara tersebut, masing-masing dideoksinukleotida pemutus rantai ditandai dengan pewarna fluoresens, yang berpendar pada panjang gelombang yang berbeda-beda. Cara ini lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan penggunaan primer berwarna, namun dapat menimbulkan ketidaksamaan tinggi kurva atau puncak (peak) yang disebabkan oleh ketidaksamaan penggabungan pemutus rantai berwarna berukuran besar pada pertumbuhan DNA (ketidaksamaan tersebut bergantung pada DNA cetakan). Masalah tersebut telah dapat dikurangi dengan penggunaan enzim dan pewarna baru yang meminimalkan perbedaan dalam penggabungan.Metode ini kini digunakan pada sebagian besar usaha reaksi sekuensing karena lebih sederhana dan lebih murah. Primer-primer yang digunakan tidak perlu dilabel secara terpisah (yang bisa jadi cukup mahal untuk primer yang dibuat untuk sekali pakai), walaupun hal tersebut tidak terlalu bermasalah dalam penggunaan primer universal.

Mesin sekuensing DNA automatis modern mampu mengurutkan 384 sampel berlabel fluoresens sekaligus dalam sekali elektroforesis yang dapat dilakukan sampai 24 kali sehari. Hal tersebut hanya mencakup proses pemisahan dan proses pembacaan kurva, reaksi sekuensing, pembersihan, serta pelarutan ulang dalam buffer yang sesuai harus dilakukan secara terpisah.

Untuk memperoleh hasil reaksi berlabel yang dapat dideteksi dari DNA cetakan, metode sekuensing daur (cycle sequencing) paling lazim dilakukan. Dalam metode ini dilakukan berturut-turut penempelan primer (primer annealing), ekstensi oleh polimerase DNA, dan denaturasi (peleburan atau melting) untai-untai DNA cetakan secara berulang-ulang (25–40 putaran). Kelebihan utama sekuensing daur adalah lebih efisiennya penggunaan pereaksi sekuensing yang mahal (BigDye) dan kemampuannya dalam mengurutkan cetakan dengan struktur sekunder tertentu . Setiap tahap pada sekuensing daur ditempuh dengan mengubah temperatur reaksi menggunakan mesin pendaur panas (thermal cycler) PCR. Cara tersebut didasarkan pada fakta bahwa dua untai DNA yang komplementer akan saling menempel (berhibridisasi) pada temperatur rendah dan berpisah (terdenaturasi) pada temperatur tinggi. Hal penting lain yang memungkinkan cara tersebut adalah penggunaan enzim DNA polimerase dari organisme termofilik (organisme yang hidup di lingkungan bertemperatur tinggi), yang tidak mudah terurai pada temperatur tinggi yang digunakan pada cara tersebut (>95°C).

Sekuens DNA dengan ukuran jauh lebih besar kerap kali dibutuhkan. Sebagai contoh, genom bakteri sederhana dapat mengandung jutaan pasang basa, sedangkan genom manusia terdiri atas lebih dari 3 milyar pasang basa. Berbagai strategi telah dikembangkan untuk sekuensing DNA skala besar, termasuk strategi primer walking dan shotgun sequencing. Kedua strategi tersebut melibatkan pembacaan banyak bagian DNA dengan metode Sanger dan selanjutnya menyusun hasil pembacaan tersebut menjadi sekuens yang runut.

Data sekuens bermutu tinggi lebih mudah didapatkan bila DNA bersangkutan dimurnikan dari pencemar yang mungkin terdapat pada sampel dan diamplifikasi. Hal ini dapat dilakukan dengan metode reaksi berantai polimerase bila primer yang dibutuhkan untuk mencakup seluruh daerah yang diinginkan cukup praktis dibuat. Cara lainnya adalah dengan kloning DNA sampel menggunakan vektor bakteri, yaitu memanfaatkan bakteri untuk menumbuhkan salinan DNA yang diinginkan sebanyak beberapa ribu pasang basa sekaligus. Biasanya proyek-proyek sekuensing DNA skala besar memiliki database hasil kloning.

D. Biosensor DNA Elektrokimia

Biosensor

Selain menggunakan tehnik sekuensing DNA seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, telah berkembang pula sekuensing DNA dengan menggunakan biosensor elektrokimia yang biasa disebut biosensor DNA elektrokimia. Akhir-akhir ini, telah banyak riset dan pengembangan biosensor dilakukan oleh ilmuwan maupun industri, dan dalam dunia biosensor research, telah berkembang biosensor yang berbasis DNA (genosensor).

Sensor dapat diartikan sebagai alat yang dapat menangkap fenomena fisika atau kimia kemudian mengubahnya menjadi sinyal elektrik. Berdasarkan fenomena kimia yang diubah menjadi sinyal elektrik, ada sejumlah sensor kimia yaitu sensor elektrokimia, sensor elektrik, sensor optik, sensor sensitif berat, biosensor dan lain-lain.

Biosensor sendiri adalah perangkat sensor yang menggabungkan senyawa biologi dengan suatu transduser. Wicaksono (2000:79) menjelaskan biosensor sebagai berikut.

Biosensor, menurut definisi klasiknya (hingga sekitarpertengahan dekade 90an) didefinisikan kira-kira sebagai berikut : “Suatu perangkat/instrumen analitik yang menggunakan biomolekul (molekul dari makhluk hidup) seperti enzim, antibodi, jaringan, sel, mikroba, dan lain-lain untuk melakukan pengenalan/deteksi/rekognisi (recognition) akan suatu zat (bio)kimia tertentu, yang kemudian perubahan sifat fisika-kimia pada biomolekul itu yg merepresentasikan informasi ditransduksikan dengan transduser fisis menjadi besaran elektronik untuk bisa diolah selanjutnya”.

Dalam proses kerjanya senyawa aktif biologi akan berinteraksi dengan molekul yang akan dideteksi yang disebut molekul target. Hasil interaksi yang berupa besaran fisik seperti panas, arus listrik, potensial listrik atau lainnya akan dimonitor oleh transduser. Besaran tersebut kemudian diproses sebagai sinyal sehingga diperoleh hasil yang dapat dibaca. Wicaksono)

Biosensor yang pertama kali dibuat adalah sensor yang menggunakan transduser elektrokimia yaitu elektroda enzim untuk menentukan kadar glukosa dengan metode amperometri. Sejauh ini, biosensor dalam perkembangannya mempunyai tiga generasi yaitu generasi pertama dimana biosensor berbasis oksigen, generasi kedua yaitu biosensor menjadi lebih spesifik yang melibatkan mediator diantara reaksi dan transduser, dan terakhir generasi ketiga, dimana biosensor berbasis enzyme coupling.

Pada dasarnya biosensor terdiri dari tiga unsur yaitu unsur biologi (reseptor biologi), transduser, dan sistem elektronik pemroses sinyal. Unsur biologi yang umumnya digunakan dalam mendesain suatu biosensor dapat berupa enzim, organel, jaringan, antibodi, bakteri, jasad renik, dan DNA. Unsur biologi ini biasanya berada dalam bentuk teramobilisasi pada suatu transduser. Amobilisasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara baik dengan adsorpsi fisik, menggunakan membran atau perangkap matriks atau dengan membuat ikatan kovalen antara biomolekul dengan transduser.

Untuk transduser, yang banyak digunakan dalam suatu biosensor adalah transduser elektrokimia, optoelektronik, kristal piezoelektronik, transistor efek medan dan temistor. Proses yang terjadi dalam transduser dapat berupa biosensor kalorimetrik, potensiometrik, amperometrik, optikal maupun piezo-electric biosensor. Sinyal yang keluar dari transduser ini kemudian diproses dalam suatu sistem elektronik misalnya perekam atau komputer. Suatu biosensor DNA (atau genosensor) menggunakan DNA yang diamobilisasi sebagai unsur pengenalnya. Untuk biosensor DNA elektrokimia, unsur biologi yang digunakan adalah DNA dan transdusernya adalah transduser elektrokimia. Metode elektrokimia yang digunakan adalah voltametri, amperometri dan cyclic voltametry.

Hibridisasi dalam Biosensor DNA Elektrokimia

Aspek yang penting pada hibridisasi biosensor adalah sensitivitas untuk mendeteksi konsentrasi DNA yang serendah mungkin, dan selektivitas untuk dapat mendeteksi titik mutasi. Metode tradisional untuk mendeteksi terjadinya hibridisasi adalah sangat lambat dan memerlukan preparasi khusus. Ini yang menjadi alasan mengapa akhir-akhir ini pengembangan biosensor hibridisasi secara elektrokimia menjadi sangat menarik.

Suatu biosensor hibridisasi DNA elektrokimia pada dasarnya terdiri dari suatu elektrode yang dimodifikasi dengan ssDNA yang disebut probe. Karena elektrode dimodifikasi dengan probe, maka akan menyebabkan interaksi dengan sampel melalui pengenalan urutan komplementernya, di antara yang lainnya, di bawah kondisi pH, kekuatan ion, dan temperatur tertentu.

Tahap selanjutnya adalah deteksi pembentukan double helix. Tahap-tahap pembuatan biosensor hibridisasi elektrokimia meliputi amobilisasi probe, hibridisasi dan deteksi terjadinya hibridisasi. Deteksi terjadinya hibridisasi DNA antara probe dengan target adalah DNA diamobilisasi hingga menyebabkan basa-basa dapat mengalami biopengenalan dengan urutan komplementernya. Dalam hal ini, sifat elektrode memainkan peranan yang sangat penting. Bagaimana kompromi basa-basa untuk berinteraksi dengan permukaan elektrode dan selanjutnya mereka dapat membentuk double helix.

Aspek Elektrokimia Pada Biosensor DNA Elektrokimia

Untuk transduser pada biosensor digunakan transduser elektrokimia. Secara elektrokimia, fungsi dari biosensor dijalankan berdasar pada kelistrikan yang timbul dari sampel berupa sinyal. Sinyal yang keluar dari transduser ini diproses dalam suatu sistem elektronik recorder atau komputer.

Pada sistem biologis, sering terdapat reaksi redoks pada enzim. Pertukaran elektronnya bisa dideteksi dengan metode elektrokimia untuk mendapatkan hubungan dengan konsentrasi zat yang terkait dalam reaksi redoks tersebut. Metode elektrokimia yang dipakai amperometri. Elektrode mengkonversi pengenalan pasangan basa menjadi sinyal listrik yang dapat diukur terhadap waktu.

Biosensor DNA dengan Pengenalan Asam Nukleat

Pemilihan asam nukleat untuk preparasi suatu biosensor berdasarkan DNA bergantung pada apa yang akan di-sense. Biosensor untuk mendeteksi urutan DNA, suatu ssDNA, biasanya digunakan oligonukleotida pendek sebagai elemen biosensing. Dendrimer dan analog DNA dapat digunakan juga untuk tujuan ini

Suatu biosensor DNA (atau genosensor) menggunakan DNA yang diamobilisasi sebagai unsur pengenalnya. Biosensor DNA secara elektrokimia merupakan suatu elektrode yang mengkonversi pengenalan pasangan basa menjadi sinyal listrik yang dapat diukur. Biosensor DNA berdasarkan proses pengenalan asam nukleat berkembang pesat ke arah pengujian yang cepat terhadap penyakit infeksi maupun genetik. Transduser elektrokimia sering digunakan untuk mendeteksi terjadinya hibridisasi DNA, karena sensitivitasnya, dimensinya yang kecil dan biayanya yang tidak mahal.. Beberapa piranti melibatkan amobilisasi probe single-stranded (ss-) pada permukaan elektrode untuk mengenali pasangan basa komplementernya dalam larutan sampel. Pembentukan dupleks biasanya dideteksi dengan penggunaan indikator hibridisasi elektroaktif. Indikator biasanya menggunakan kompleks logam kationik, seperti Co[phen] atau Co[bpy]atau senyawa organik penginterkalasi (seperti acridine orange dan biru metilen), yang berinteraksi dengan cara yang berbeda antara ss-DNA dan ds-DNA. Respon elektrokimia yang meningkat karena asosiasi indikator dengan permukaan dupleks kemudian berperan sebagai sinyal hibridisasi.

Cara Sekuensing DNA dengan Biosensor Elektrokimia

Sekuensing DNA berbasis sensor elektrokimia memanfaatkan berbagai sifat kimia yang berbeda berupa interaksi skala nano pada larutan target ,lapis tipis antara larutan dan permukaan elektroda yang solid. Numerous approaches to electrochemical detection have been developed, including direct electrochemistry of DNA, electrochemistry at polymer-modified electrodes, electrochemistry of DNA-specific redox reporters, electrochemical amplifications with nanoparticles, and electrochemical devices based on DNA-mediated charge transport chemistry. Berbagai pendekatan untuk deteksi elektrokimia telah berkembang, termasuk elektrokimia langsung pada DNA, elektrokimia dengan elektroda polimer termodifikasi, elektrokimia yang meliputi reaksi redoks spesifik DNA, electrochemical amplifications dengan partikel-partikel nano, dan perangkat elektrokimia berdasarkan sistem transpor kimia media DNA.

Metode yang tepat digunakan adalah metode elektronika secara tak langsung. Dalam penelitian yang dibutuhkan hanya peralatan dasar elektrokimia untuk pendeteksian secara elektronika dengan membuat hibridisasi yang menarik. Metode tersebut adalah metode amperometri dengan menggunakan film (membran) sangat tipis terbuat dari polimer polipirol dengan campuran minyak oligonukleotida, dengan limit deteksi yang rendah yaitu 1,6 fmol dalam 0,1 mL.

Fokus utama adalah terhadap deteksi DNA dengan metode elektrokimia tidak langsung. DNA silikon yang sensitif dan bebas label merupakan basis dari mikrosensor elektrokimia yang dibuat dengan menggunakan film tipis dari polipirol yang dipasangkan dengan probe oligonukleotika. Metode yang digunakan untuk deteksi target DNA yang melawan patogen adalah amperometri. Silikon untuk sensor elektrokimia yang disatukan dalam bentuk chip didesain dengan 12 disc elektroda dengan ukuran 3×4.

Disiapkan elektroda dengan diameter 90 mm dan dibuat jarak antara pusat elektroda ke pusat sepanjang 250 mm. Semua elektroda berlokasi di bawah wadah reaksi elektrokimia dan setiap elektroda dikontrol secara individu. Dua batang silikon berukuran 60 inchi digunakan sebagai substrat dalam pembuatan sensor elektrokimia ini. Emas digunakan sebagai material elektrodanya. Ukuran chip yang digunakan adalah 1 cm x 1 cm, dan volume wadah adalah 0,5 cm x 0,5 cm x 0,67 cm. Elektroda yang digunakan adalah 5000A disc emas yang dilapisi oleh 200A titanium.

Setelah logam dideposisi, lapisan insulator dengan 2000A silikon dioksida, 2000A silikon nitrida, dan 2000A silikon dioksida diendapkan oleh PECVD. Untuk membentuk bilik reaksi elektrokimia dan bilik hibridisasi DNA, silikon kedua digunakan sehingga terbentuk rongga dan terbentuk bilik reaksi. Lapisan insulator kemudian diluruskan dengan lapisan yang saling berikatan oleh PDMS pada suhu kamar. Permukaan elektroda dipoles dengan serbuk alumina dan dicuci dengan air, serta dikeringkan dengan nitrogen untuk uji perbandingan.

Kelebihan Sekuensing DNA dengan Biosensor Elektrokimia

Aplikasi dari elektrokimia dalam bidang kedokteran, medis, forensik, dan obat-obatan, dengan cara mendeteksi dan mengkuantifikasi urutan dari rantai DNA sangat mudah, dapat dipercaya, hemat, dan dapat dilakukan dalam skala besar dengan menggunakan metode amperometri. Sebelumnya telah berkembang metode Maxam-Gilbert dan metode Sanger.

Metode Sanger saat ini merupakan metode yang banyak dipakai baik dalam skala laboratorium maupun massal. Aplikasi elektrokimia yang yang diterapkan pada bioteknologi biosensor memberikan alternatif yang menarik dalam perkembangan pengetahuan dan teknik sekuensing DNA dari yang telah ada sebelumnya.

E. DAFTAR PUSTAKA

Hartati, Yeni Wahyuni. 2009. Deteksi Hibridisasi Dalam Biosensor DNA Elektrokimia, (Online), (http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/deteksi%20hibridisasi.pdf, DETEKSI HIBRIDISASI DALAM BIOSENSOR DNA ELEKTROKIMIA, diakses 15 Januari 2009).

Hartati, Yeni Wahyuni. 2007. Elektrokimia untuk Deteksi Urutan DNA Tanpa Indikator Hibridisasi, (Online), ( http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/makalah%20seminar%20HKI%202007.pdf, diakses 15 Januari 2009).

Putra, Sinly Evan. 2009. Biosensor dan Aplikasinya, (Online), (http://www.chem-is-try.org/?sect=fokus&ext=43, diakses 15 Januari 2009).

Tim Pengampu Biologi Molekuler Fakultas Biologi Unsoed. 2009. Sekuensing DNA, (Online), http://biomol.wordpress.com/bahan-ajar/sekuensing-dna/, diakses 11 januari 2009).

Wicaksono, Dedy Hermawan Bagus. 2009. Mengenal Biosensor dan Generasi Terbaru Biosensor, (Online), (http://wwwstd.ryu.titech.ac.jp/~indonesia/tokodai/zoa/pdf/zoadedy.pdf, diakses 16 Januari 2009).

Wikipedia. 2008. Sekuens DNA, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Sekuens_DNA, 28 Desember 2008).

Wikipedia. 2009. Sekuensing Asam Nukleat, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Sekuensing_asam_nukleat, diakses 15 Januari 2009).

Zunita, Megawati. 2009. Sensor Cepat dan Sensitif DNA Elektrokimia, (Online), (http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=6963, diakses 15 Januari 2009).

 

Categories: KIMIA Tags: , ,
  1. Megawati Zunita
    July 20, 2010 at 6:06 am

    saya mau tanya anda dapat artikel saya ini darimana? mengapa tidak ada konfrimasi dan tidak dicantumkan sumbernya?.

    Terima kasih

    • nurcahyadi7
      July 31, 2010 at 1:30 pm

      Ini artikel yang mana ya yang dimaksud, kalau yang DNA ini ada kok, sumbernya sudah dicantumkan (itupun saya gabung2kan dari sejumlah artikel dan buku), kalau yang sampah plastik itu saya memang ngopi di rental komputer. g tau punya siapa

    • nurcahyadi7
      August 3, 2010 at 6:45 pm

      mohon maaf, tapi sumbernya ada kok di bawahnya, itu saya gabung-gabungin dari sejumlah referensi buku dan internet, g tau klo punya pyan, sudah lupa soalnya, terima kasih atas konfirmasinya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: