Home > KIMIA > Radiasi Zat Radioaktif

Radiasi Zat Radioaktif

A. Pengertian.
Zat yang mengandumg inti tidak stabil disebut zat radioaktif. Radioaktif berasal dari kata radio atau radiare yaitu memancar, bersinar dan aktif. Aktif sendiri berarti spontan dan dengan sendirinya. Zat radioaktif dapat diartikan sebagai zat yang memiliki kemampuan memancar dengan spontan.
B. Radiasi Zat Radioaktif.
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada sejumlah sumber radiasi yang kita kenal di sekitar lingkungan kita seperti televisi, microwave, komputer, lampu penerangan, alat pemanas dan lain-lain. Sumber-sumber radiasi yang bersifat alamiah berada di air, udara, dan daratan. Misalnya thorium dan uranium di dalam lapisan bumi, karbon dan radon ada di udara serta tritiumdan deuterium berada di lautan.
Secara garis besar radiasi dibedakan radiasi pengion dan radiasi non-pengion. Radiasi pengioa adalah radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi apabila berinteraksi dengan materi. Beberapa partikel atau sinar yang tergolong radiasi pengion antara lain :
Partikel alpha ( α ).
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel
sinar alfa sama dengan inti He-4, bermuatan +2e dan bermassa 4 sma.
Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Sinar alfa
dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Karena
memiliki massa yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah diantara
diantara sinar-sinar radioaktif. Diudara hanya dapat menembus beberapa cm saja
dan tidak dapat menembus kulit. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas
biasa. Sinar alfa segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul
media yang dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya
mengalami ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan
berubah menjadi atom He-4. Daya ionisasinya cukup besar yaitu 100 kali partikel beta dan 10 000 kali partikel gamma, karenanya partikel ini mudah dipengaruhi partikel di sekitarnya.
Partikel beta. ( β ).
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar beta
merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang
bemuatan -l e dan bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta
dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi e. Energi sinar
beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi
daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh
sampai 300 cm dalam udara kering dan dapat menembus kulit.
Sinar gamma. ( γ ).
Sinar gamma tidak tidak memiliki besaran volume dan muatan listrik sehingga sehingga dikelompokkan sebagai gelombang elektromagnetik. Daya ionisasi kecil. Daya tembus lebih besar dari partikel alpha dan beta serta tak terbelokkan oleh medan listrik.
Sinar-X.
Sinar-X mempunyai kemiripan dengan sinar gamma dalam hal daya jangkau pada suatu media dan pengaruh oleh medan listrik. Yang membedakan antara keduanya adalah proses terjadinya dimana sinar gamma dihasilkan dari proses peluruhan inti atom., sedangkan sinar-X dihasilkan ketika elektron berenergi tinggi menumbuk suatu target logam.
Partikel neutron.
Partikel ini berukuran kecil dan tidak bermuatan serta daya tembusnya tinggi. Partikel neutron dapat dihasilkan dari reaksi inti antara satu unsur dengan unsur lainnya.
Sedangkan radiasi non pengion adalah radiasi yang tidak menyebabkan ionisasi pada materi. Yang termasuk jenis radiasi ini adalah gelombang radio, gelombang mikro, sinar infra merah, cahaya tampak dan sinar ultraviolet.
C. Sifat Radiasi.
Ada dua macam sifat radiasi  yang dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan sumber radiasi pada suatu tempat atau bahan yaitu sebagai berikut :
1. Radiasi tidak dapat dirasakan oleh indra manusia sehingga untuk mengetahuinya    digunakan alat pendeteksi yang disebut pencacah atau detektor radiasi.
2. Radiasi dapat berinteraksi dengan materi yang dikenainya melalui proses ionisasi, esistensi dan sebagainya. Dari fakta tersebut dapat dijadikan dasar untuk membuat detektor radiasi.
Bahaya radiasi  dari zat radioaktivitas dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Bahaya radiasi eksternal.
Bahaya radiasi ini berasal dari sumber di luar manusia. Misalnya radiasi dari sinar gamma, beta atau partikel neutron. Untuk mengendalikan bahaya radiasi jenis ini dapat dilakukan berbagai cara seperti berikut ini :
Mengembalikan sumber radiasi yang tidak digunakan pada tempat penyimpanannya untuk menghindari paparan berbahaya di lingkungan kerja.
Mengambil dan mengembalikan sumber radioaktif ketika eksperimen.
Medan radiasi dari berkas dibatasi dengan menggunakan alat kolimator.
Pengecekan secara berkala untuk memastikan jumlah dan aktivitas sumber.
Membatasi produk yang bersifat radioaktivitas.
2. Bahaya radiasi internal.
Radiasi jenis ini tidak berbahaya bila ada di luar tubuh manusia karena jangkaunnya pendek akan tetapi bila masuk ke tubuh manusia akan menjadi berbahaya.
D. Manfaat Radiasi Zat Radioaktif.
Radiasi secara luas digunakan dalam dunia kedokteran. Sumber radiasi yang berasal dari nuklida I-131 yang memancarkan sinar beta bermanfaat dalam pengobatan kanker tiroid sebab iodin diambil secara terpilih oleh kelenjar tiroid. Sumber radiasi yang berasal dari sinar-X dan sinar gamma secara selektif dapat digunakan dalam terapi kanker untuk memusnahkan sel ganas. Alat pacu jantung menggunakan peluruhan sejumlah kecil Pu-238 yang radioaktif untuk diubah menjadi energi listrik. Adanya tomografi pancaran positron atau PET merupakan diagnostik yang menggunakan radiasi dan juga radiografi yaitu alat untuk mengetahui bagian dalam dari organ tubuh seperti jantung dan paru-paru.
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Sterilisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu:
a) Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan mikroorganisme.
b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
c) Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut tidak mungkin tercemar bakteri lagi sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu disterilkan dulu baru dikemas, maka dalam proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.
Dalam bidang industri adalah di pabrik kertas dimana ketebalan kertas dapat diatur dengan mengukur berapa banyak radiasi sinar beta yang menembus kertas menuju ke alat pencacah Geiger-Muller.  Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam atau sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tehnik ini berdasarkan sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam merata atau ada bagian bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang berongga itu film akan lebih hitam, Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau lempeng logam dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima detektor akan berkurang dan mekanisme alat akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat dipertahankan.
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapat menningkatkan mutu tekstil karena inengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan lebih lama.
Radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis. Di laboratorium dibiakkan hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama tersebut lalu diradiasi sehingga serangga jantan menjadi mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah yang terserang hama. Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul dilepas. Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan menetas. Dengan demikian reproduksi hama tersebut terganggu dan akan mengurangi populasi. Pemuliaan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan dengan menggunakan radiasi. Misalnya pemuliaan padi, bibit padi diberi radiasi dengan dosis yang bervariasi, dari dosis terkecil yang tidak membawa pengaruh hingga dosis rendah yang mematikan. Biji yang sudah diradiasi itu kemudian disemaikan dan ditanam berkelompok menurut ukuran dosis radiasinya.  Kita mengetahui bahwa bahan makanan seperti kentang dan bawang jika disimpan lama akan bertunas. Radiasi dapat menghambat pertumbuhan bahan-bahan seperti itu. Jadi sebelum bahan tersebut di simpan diberi radiasi dengan dosis tertentu sehingga tidak akan bertunas, dengan dernikian dapat disimpan lebih lama.

Categories: KIMIA Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: