Home > Pendidikan > Guru oh Guru

Guru oh Guru

Tulisan ini bukanlah untuk mendefinisikan apa itu profesi guru ataupun apa itu tujuan guru, bukan pula untuk mengkritik mereka habis-habisan karena beberapa peristiwa akhir-akhir ini. Tulisan seperti itu tampaknya sudah banyak dibuat. Mungkin tulisan ini hanyalah sebuah curahan hati, begitulah. Bila kita mendengar kata guru, sederhananya bila kita masuk ke sekolah, ada orang berseragam PNS dan sedang berbicara dengan siswanya di depan kelas dibarengi dengan aktivitas corat-coret papan di depan kelas, maka orang itulah yang disebut guru, karena tidak mungkin Ia adalah seorang pegawai TU atau pelawak paruh waktu yang sedang usil. Menjadi guru adalah sebuah cita-cita saya sejak kecil. Pada kelas 1 SD ketika guru saya meminta saya untuk menyebutkan apa cita-cita saya, saya benar-benar bingung mau jadi apa saya nantinya. Peristiwanya sama tapi tidak persis dengan sebuah iklan susu untuk anak-anak, dimana seorang guru bertanya pada ketiga muridnya tentang cita-citanya, hanya ada satu anak yang kelihatannya cerdas yang bisa menyebutkan apa cita-citanya dengan mantap dan juga apa lasannya memilih cita-citanya itu, sedangkan dua lainnya pada blank semua. Satunya hanya bisa ketawa-ketawa tidak jelas, yang satunya lagi menjawab  “Aduh apa ya ?”. Waktu itu saya seperti kedua anak ini. Baru ketika kelas 5 SD saya bisa dengan  mantap   menentukan apa cita-cita saya, yaitu menjadi guru SD. Banyak pertimbangannya sehingga saya rela menambatkan hati saya pada profesi yang satu ini, dulu mungkin tidak begitu tepat disebut sebagai profesi, pantasnya disebut dengan pengabdian.

Dulu waktu saya SD, saya sering melihat profesi guru adalah profesi yang santai, itu karena saya melihat sendiri bagaimana guru saya di sekolah dan juga karena orang tua saya juga berprofesi sebagai guru. Siang-siang mereka sudah berada di rumah, ngaso dan berkumpul dengan keluarga, yah pasti profesi ini tak terlalu berat. Kedua, sebenarnya waktu itu banyak plilihan untuk menjadi apa di masa depan nantinya bagi saya, tentara dan polisi waktu itu sangat populer, tapi karena saya payah dalam urusan olahraga maka gugurlah harapan saya. Pilot, tak ada gambaran untuk profesi yang satu ini. Dokter, dosen dan perawat, kemampuan akademik saya pas-pasan. Ketiga, perkejaan guru itu adalah pekerjaan terhormat, gelarnya saja dulu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi dengan menjadi seorang guru otomatis kita telah menjadi seorang pahlawan, tidak perlu angkat senjata perang sana-perang sini atau turun ke jalan mendemo pemerintah sampai dipentungi oleh polisi, dijebloskan ke penjara ataupun dihilangkan tanpa jejak, seorang guru sudah layak untuk mendapat gelar pahlawan, meskipun tanpa piagam tanda jasa, karena memang pekerjaan guru waktu dulu sangat “mengenaskan”. Itu dulu, tidak sekarang. Keempat, inilah yang paling penting dan paling membanggakan, profesi guru adalah suatu bentuk pekerjaan yang penuh dengan pengabdian, keteladanan, rasa kehormatan , kesederhanaan, kejujuran, ketulusan dan rasa kasih sayang. Dulu, guru adalah suatu bentuk penuh pengabdian adalah benar adanya, dengan bayaran yang pas-pasan bahkan kurang, mereka rela bekerja keras mendidik murid-muridnya, tanpa pamrih dan dengan rasa ikhlas. Mereka rela menembus medan berat demi mencerdaskan anak didik mereka dan itupun terkadang dibayangi kondisi sekolah yang memprihatinkan. Yah, mereka rela berkorban jiwa dan raga demi pekerjaan guru ini. Laskar pelangi adalah fakta yang cukup gamblang untuk menjelaskan hal ini. Terhormat sudah jelas. Sederhana itu pasti. Dengan penghasilan yang pas-pasan, bahkan terkadang pula kurang, tidaklah mungkin bagi mereka untuk tampil serba wah. Istilah “tanggal tua” adalah istilah yang sangat populer. Bila sudah memasuki masa-masa “tanggal tua”, mereka pasti kelimpungan, jadilah sering kita dengar ada guru yang nyambi menjadi tukang ojek untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Dulu, pekerjaan guru sering dipandang sebelah mata, pekerjaannya berat tapi bayarannya rendah, pekerjaan yang tidak akan membuat seseorang kaya raya. Tapi pekerjaan ini tetap pekerjaan yang terhormat dan menjadi teladan bagi masyarakat.  Tak ada mobil mewah, tak ada rumah mewah, bukan pula pejabat tinggi yang memiliki kekuasaan, tapi tetap pekerjaan terhormat, membanggakan dan penuh dengan nilai keteladanan. Orang tua saya pernah menceritakan masa-masa awal ketika Ia baru diangkat sebagai guru. Masyarakat waktu itu sangat menghormati guru, bahkan mereka memperlakukan seorang guru layaknya seorang kiai. Kita tahulah bagaimanan takzimnya seorang santri kepada kiainya. Teman saya waktu SMA, terhadap guru SMAnya penghormatannya biasa-biasa saja, tapi pada kiainya sangat luar biasa. Pernah suatu waktu teman saya itu melihat kendaraan kiainya sedang melaju di jalan, padahal jaraknya masih cukup jauh dengannya tapi ia sudah berdiri diam memberi penghormatan.  Luar biasa. Dan sikap yang sama, dulu, juga pernah diberikan oleh masyarakat, orang tua murid dan murid terhadap  seorang guru, meskipun ketika orang tua saya menceritakan pengalamannya tersebut, saya tak pernah melihat fenomena itu lagi.

Teringat pula sebuah ceramah yang diberikan oleh Ustadz Yusuf Mansur, dia menceritakan bahwa pada waktu kecil ia sering “dipukuli” oleh orang tuanya,bahkan sering dikunci di gudang segala bila ia melakukan kesalahan. Gaya mendidik orang tua zaman dahulu, keras, atau istilahnya sekarang memakai paradigma kekerasan. Begitu juga guru-gurunya, sama sering menggunakan paradigma kekerasan. Istilahnya sekarang, kekerasan dalam dunia pendidikan. Tapi, hebatnya, Ustadz Yusuf Mansur, ia tidak pernah merasa dendam terhadap perlakuan orang tua dan gurunya tersebut. Mengapa ? Karena baginya apa yang dilakukan oleh orang tua dan gurunya adalah demi kebaikannya, pun dilakukan karena mereka sayang padanya, jadi dilakukan dengan kasih sayang, bukan karena benci atau tidak suka terhadap Ustadz Yusuf Mansur. Karena itulah, dengan perlakuan tersebut, Ustadz Yusuf Mansur justru merasa sadar atas kesalahannya. Mengapa? Karena semua itu dilakukan dengan penuh kasih sayang, dan menurut Ustadz Yusuf Mansur, sifat dan sikap kasih sayang  itulah sekarang yang mulai luntur dari perilaku masyarakat kita, termasuk pada seorang guru. Sayapun teringat pada waktu SD, bila kuku saya panjang ,tanpa ragu guru saya akan memukul jari saya dengan antene radio. Toh, saya tidak marah, dendam dan takut, sampai trauma segala, karena saya tahu apa yang saya lakukan memang salah dan mereka pun melakukan karena mereka sayang pada kita. Bukannya saya menyetujui aksi kekerasan di sekolah, tapi saya sendiri ingin menyoroti lunturnya rasa kasih sayang oleh seorang pendidik terhadap pendidiknya. Saya rasa praktek-praktek kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh seorang guru memang sering terjadi pada masa lalu, tapi tak sampai memunculkan kehebohan, karena masyarakat juga tidak mempermaslahkannya dan itupun dilakukan masih dalam bingkai kasih sayang sehingga aksi-aksi tersebut tak sampai melampaui kewajaran. Maklumlah, guru zaman dulu adalah pengabdian. Coba bandingkan dengan sekarang, ada sedikit kekerasan saja di sekolah yang dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya, pasti langsung diprotes habis-habisan oleh orang tua murid, KPAI , dll, dan akhirnya polisipun diikutkan. Gampangnya,sekarang  orang tua murid beranggapan bahwa mereka sudah bayar mahal-mahal agar anaknya bisa sekolah, bukannya dibuat pintar, malah digebukin, orang tua mana yang tidak akan protes.

Zaman telah berubah, pekerjaan sebagai seorang guru semakin hari semakin tidak idealis, menuju ke pragmatis, lengkaplah sudah dengan munculnya istilah pendidikan profesi guru. Layaknya mesin kaleng jus,  baru mengeluarkan jusnya bila kita memasukkan koin ke dalamnya, itulah pekerjaan guru sekarang. Dan itu harus diakui adalah sangat manusiawi, kesejahteraan adalah idaman setiap insan di negeri ini. Toh, sistem memang  diciptakan untuk mendukung hal tersebut. Guru hanyalah obyek dari kebijakan, yang menciptakan sistem tersebut adalah para pembuat kebijakan. Nilai pengabdian dari sebuah  profesi guru sekarang memang pantas dipertanyakan. Saya adalah seorang calon guru yang hingga beberapa tahun terakhir ini tetap memelihara impian masa lalu tersebut, namun akhir-akhir ini keyakinan saya mulai menghilang, zaman telah berubah, selamat tinggal romantisme masa lalu, selamat datang di zaman baru. Tapi saya tetap yakin, masih ada banyak guru pengabdian di pelosok sana.

Categories: Pendidikan Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: